Kamis, 11 Juli 2013

KEUTAMAAN BULAN ROMADHAN

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

Wasiat bittaqwa
Sekarang kita berada di bulan suci Ramadlan, bulan yang penuh rahmat, hidayah, ampunan, pembebasan diri dari siksa neraka. Untuk itu, marilah kita gunakan waktu bulan Ramadlan ini dengan senantiasa meningkatkan amaliah-amaliah ibadah untuk menuju kebahagiaan yang hakiki kelak di yaumul qiyamah/alam barzah. Bulan yang penuh hikmah ini, belum tentu kita tahun depan bisa bertemu kembali. Menghirup udara di bulan tersebut. Ini semuanya adalah kita pasrahkan kepada yang Maha kuasa yaitu Allah. Kita hamba Allah tidak bisa memastika atau menentukan.
اَناَ اُرِيْدُ اَنْتَ تُرِيْدُ وَاللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ
Pada kesempatan ini, yang perlu adalah kita mawas diri/introspeksi diri kita sendiri. Sudahkah selama kita melaksanakan ibadah puasa sesuai dengan apa yang dicanangkan oleh agama, seperti halnya persoalan yang ada dalam pribadi seseorang. Sejauh mana kita bisa menahan gejolak emosional, sifat ghibah menghardik dan sebagainya. Mampukan kita mengatasi hal tersebut secara maksimal..? sudahkah semua pelaksanaan kegiatan fisik kita dioptimalkan untuk menuju tatanan ibadah..? seperti mata, berapa persenkah mata kita digunakan untuk membaca ayat-ayat Allah dalam kehidupan selama kehadiran bulan ramadlan..? berapa Juzkan Al Qur’an yang sudah kita baca..?. Telinga, mampukah telinga kita ketika mendengarkan sesuatu yang tidak menimbulkan kemaksiatan selama kedatangan bulan suci ini..? sudahkah hari kita, siang malam selalu ingat kepada Allah baik melalui dzikir, munajat atau amalan-amalan untuk menuju pengabdian kita kepada Yang Maha Kuasa..? kalau kita jawabannya belum 100% maka pada kesempatan yang baik inilah kita ada peluang untuk memohon kepada Allah agar senantiasa diberi kekuatan untuk merubahnya menuju kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan tuntunan syari’at. Dan juga pada bulan ramadlan ini kita berkesempatan untuk memperbaiki diri, bertobat meskipun dapat dilakukan kapan saja. Namun terasa lebih terbuka dan konsentrasi manakala ada pada bulan yang penuh berkah ini. Untuk itu marilah kita senantiasa beribadah dengan ikhlas, betul-betul mengharap ridho Allah sehingga ibadah puasa kita tidak sia-sia bahkan mendapat pahala dari Allah yang berlipat ganda.
                 ( PD II/82 )     لَوْ يَعْلَمُ مَا فِى هَذَاالشَّهْرِ مِنَ اْلخَيْرَاتِ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِيْ اَنْ يَكُوْنَ رَمَضَانَ السَّنَةَ كُلَّهَا     
Artinya : “Andai sekalian manusia mengetahui bulan ramadlan itu dilipat gandakannya pahala, betul-betul umatku mengharap mudah-mudahan setahun itu menjadi bulan ramadlan semua.”
شَهْرٌ يُزَادُ فِيْهِ رِزْقُ اْلمُؤْمِنِ وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَاَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَأَخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ  (تنبيه الغافلين : ١١٨)
Artinya : “Bulan Ramadlan adalah bulan dimana Allah menambahkan rizqi pada kita semua selaku orang muslim. Sehingga niscaya Allah ketika waktu yang sangat berharga ini digunakan untuk beribadahsemata-mata, Allah akan memberikan kecukupan dalam kehidupan kita semua.”
Apalagi nanti ketika kita memasuki 10 hari terakhir yang termasuk dianjurkan Rasul untuk memperbanyak ibadah.
Sebagaimana sabda Rasul :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ اْلعَشْرَ أَحْياَ اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَذَّ اْلمِئْزَرَ
(PD II/97)
Artinya : “Dari ‘Aisyah RA. berkata, Nabi Muhammad SAW tiap-tiap malam likuran (sepertiga yang terakhir) tekun beribadah, dan membangunkan keluarganya untuk diajak beribadah bersama.”
Apalagi pada tanggal-tanggal tersebut kita menghendaki untuk bisa mendapatkan Lailatul Qodar (ليلة القدر)
فَقَدْ سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَلاَماَتِ لَيْلَةِ اْلقَدَرِ, فَقَالَ : هِيَ لَيْلَةٌ بَلْجَةٌ أَىْ مُشْرِفَةٌ نَيِّرَةٌ لاَ حَارَّةَ وَلاَ بَارِدَةَ وَلاَ سَحَابَ فِيْهَا وَلاَ مَطَرَ وَلاَ رِيْحَ وَلاَ يُرْمَى فِيْهاَ بِنَجْمٍ وَلاَ تُطْلُعُ الشَّمْسُ صَبِيْحَتَهَا مُشْعِشَةً.   ( PD II/96 )          
Artinya : “Rasulullah SAW pernah ditanya tentang tanda-tanda lailatul qodar. Beliau bersabda : malam lailatul qodar yaitu malam yang terang dan cemerlang, hawanya tidak panas dan tidak dingin, tidak ada awan dan tidak ada hujan, tidak ada angin dan tidak ada bintang yang dilempar, dan paginya, keluarnya matahari terang tidak tersirat.”
وَعَنْ عائشةَ قَالَتْ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِذَا وَافِيْتُ لَيْلَةَ اْلقَدَرِ فِبِمَ أَدْعُوْا ؟ قَالَ : قُوْلِيْ, اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّي.
       (PD II/97)
Artinya : “Siti Aisyah berkata pada Nabi SAW : Wahai Rasulallah, bila saya berada dimalam Lailatu Qodar apa ada do’a yang harus saya baca..?. Nabi bersabda : yaitu membaca : Wahai Allah, sesungguhnya engkau adalah Maha Pemaaf dan senang akan kemaafan, maka maafkanlah aku.”
Disamping kita memperbanyak amal ibadah kita, tapi jangan lupa kita juga harus bisa menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa kita.
خَمْسَةُ أَشْياَءَ تُحْبِطُ الصَّوْمَ : اْلكَذِبُ وَاْلغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَاْليَمِيْنُ اْلغَمُوْسُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ
Lima perkara yang bisa menghilangkan pahala puasa :
1.    Berbohong
2.    Mengumpat/Menggunjung
3.    Adu Domba/Memfitnah
4.    Sumpah Palsu
5.    Melihat Perempuan Lain dengan syahwat
Hadirin Rahiakumullah…
Perlu kita ketahui, bahwasanya ibadah puasa itu memiliki tiga tingkatan/drajat. Diantaranya :
1.            صوم العوام
Puasanya orang ‘awam, tingkatan puasa ini hanya sebatas meninggalkan makan dan minum saja, dari fajar sampai ghurub (terbenamnya matahari). Namun, anggota tubuh masih belum bisa melepaskan diri dari yang namanya kemaksiatan. Telinga masih saja mendengarkan kemaksiatan, lidah masih tetap melakukan kebohongan, menggunjing, memfitnah dan sebagainya. 
2.            صوم الخواص
Pada tingkatan puasa ini, selain menahan rasa lapar dan dahaga, anggota tubuh juga mampu meninggalkan apa-apa yang mengarah pada kemaksiatan. Termasuk tidak terlalu kenyang ketika berbuka puasa, walaupun yang dimakan adalah makanan yang halal.
3.            صوم الخواص الخواص
Tingkatan puasa yang terakhir ini, puasanya para Anbiya dan Assiddiqin. Selain menahan rasa lapar, dahaga, menjaga anggota tubuh agar tidak mengarah pada hal-hal kemaksiatan, mereka juga di bulan Ramadhan yang suci ini senantiasa meningkatkan  تقرب/pendekatan diri kepada Allah SWT. Serta meninggalkan pemikiran-pemikiran yang bersifat duniawi    (  الأفكار الدنيوية ).
معاشر المسلمين رحمكم الله..............
Namun demikian, kita harus merasa bahagia atas kedatangan bulan suci Ramadhan, sekaligus dijadikannya kita semua sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Sebab, di bulan suci Ramadhan Allah SWT senantiasa memberi keutamaan terhadap umat Nabi Muhammad SAW, yang tidak pernah diberikan kepada selain umat Nabi Muhammad SAW.
أُعْطِيَتْ أُمَّتِيْ خَمْسَةُ أَشْياَءَ لَمْ تُعْطَ لأَحَدٍ قَبْلَهُمْ
1.             Di awal bulan Ramadhan, Allah SWT memandang umat Muhammad SAW dengan rasa penuh kasih sayang. Sedang, barang siapa yang dilihat oleh Allah SWT dengan rasa kasih sayang/rahmat, niscaya ia akan dijauhkan dari siksa Allah.
يَنْظُرُ اللهُ اِلَيْهِمْ بِالرَّحْمَةِ، وَمَنْ نَظَرَ اللهُ اِلَيْهِ بِالرَّحْمَةِ لاَيُعَذِّبُهُ بَعْدَهُ اَبَدًا.
2.             Allah memerintahkan para malaikat untuk memintakan ampun pada Allah bagi orang-orang yang berpuasa.
يَأْمُرُ اللهُ تَعَالَى اْلمَلَائِكَةَ بِاْلإِسْتِغْفَارِ لَهُمْ.
3.                Bahwasanya disisi Allah, aroma mulut orang yang berpuasa itu lebih harum dari pada aroma minyak misik.
أَنَّ رَائِحَةَ فَمِّ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ اْلمِسْكِ،
4.                  Allah berkata pada surga. Wahai surge, ambilah perhiasanmu. (yakni orang-orang yang dikasihani Allah SWT)yang senantiasa berpuasa di bulan suci Ramadhan.
طُوْبَى لِعِباَدِي اْلمُؤْمِنِيْنَ هُمْ أَوْلِيَائِىْ.
5.                  Allah akan memberikan ampunan kepada mereka atas dosa-dosa yang telah diperbuat.
يَغْفِرُ اللهُ تَعَالَى لَهُمْ جَمِيْعًا.
معاشر المسلمين رحمكم الله..............
Demikian tadi keuntungan/keutamaan kita semua manakala kita selalu melaksanakan ibadah puasa dan memperbanyak amalan sholeh di bulan Ramadhan ini.
جعلنا الله وإياكم من الفائزين الأمنين. وادخلنا وإياكم فى زمرة الموحدين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. شهر رمضان الذي أنزل فيه القران هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان. وقل رب اغفر وارحم وانت خير الراحمين.

Minggu, 07 Juli 2013

KETUHANAN

Imam Abu Hanifah pernah bercerita : Ada seorang ilmuwan besar, Atheis dari kalangan bangsa Rom, tapi ia orang kafir. Ulama-ulama Islam membiarkan saja, kecuali seorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah, oleh kerana itu dia segan bila bertemu dengannya.
Pada suatu hari, manusia berkumpul di masjid, orang kafir itu naik mimbar dan mahu mengadakan tukar fikiran dengan sesiapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama Islam. Di antara shaf-shaf masjid bangunlah seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah dan ketika sudah berada dekat depan mimbar, dia berkata: “Inilah saya, hendak tukar fikiran dengan tuan”. Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri kerana usia mudanya. Namun dia pun angkat berkata: “Katakan pendapat tuan!”. Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu bertanya: Atheis : Pada tahun berapakah Rabbmu dilahirkan?
Abu Hanifah : Allah berfirman: “Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan”

Atheis
 : Masuk akalkah bila dikatakan bahawa Allah ada pertama yang tiada apa-apa sebelum-Nya?, Pada tahun berapa Dia ada?
Abu Hanifah : Dia berada sebelum adanya sesuatu.
Atheis : Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan!
Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan?
Atheis : Ya.
Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu?
Atheis : Tidak ada angka (nol).
Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang hakiki tidak ada yang mendahuluiNya?
Atheis : Dimanakah Rabbmu berada sekarang?, sesuatu yang ada pasti ada tempatnya.
Abu Hanifah : Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?, apakah di dalam susu itu keju?
Atheis : Ya, sudah tentu.
Abu Hanifah : Tolong perlihatkan kepadaku di mana, di bahagian mana tempatnya keju itu sekarang?
Atheis : Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu diseluruh bahagian.
Abu Hanifah : Kalau keju makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak tuan meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah Ta’ala?, Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan!
Atheis : Tunjukkan kepada kami zat Rabbmu, apakah ia benda padat seperti besi, atau benda cair seperti air, atau menguap seperti gas?
Abu Hanifah : Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal?
Atheis : Ya, pernah.
Abu Hanifah : Sebelumnya ia berbicara dengan tuan dan menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak bergerak, apa yang menimbulkan perubahan itu?
Atheis : Kerana rohnya telah meninggalkan tubuhnya.
Abu Hanifah : Apakah waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana?
Atheis : Ya, masih ada.
Abu Hanifah : Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti besi, atau cair seperti air atau menguap seprti gas?
Atheis : Entahlah, kami tidak tahu.
Abu Hanifah : Kalau tuan tidak boleh mengetahui bagaimana zat mahupun bentuk roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana tuan boleh memaksaku untuk mengutarakan zat Allah Ta’ala?!!
Atheis : Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala sesuatu pasti mempunyai arah?
Abu Hanifah : Jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?
Atheis : Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru.
Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu, bagaimana dengan Allah Ta’ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya langit dan bumi.
Atheis : Kalau ada orang masuk ke syurga itu ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya?
Abu Hanifah : Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya.
Atheis : Bagaimana kita boleh makan dan minum di syurga tanpa buang air kecil dan besar?
Abu Hanifah : Tuan sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan. Hidup dan makan minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke dunia.
Atheis : Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dinafkahkan?
Abu Hanifah : Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah banyak, sep

Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan


Nabi Ibrahim lahir di sebuah tempat bernama “Faddam A’ram” di kerajaan Babilonia yang dipimpin oleh Raja Namrud. Pada masa itu, Kerajaan Babilonia termasuk kerajaan yang makmur. Namun, kehidupan mereka masih jahiliyah. Bahkan Ayahnya, Azar, adalah seorang pemahat patung.
Suatu hari Namrud mendapat firasat bahwa akan lahir bayi laki-laki yang akan menggulingkan kekuasaanya. Maka diperintahkanlah kepada seluruh pasukannya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Hingga ketika Nabi Ibrahim lahir, Azar tidak tega membunuh anaknya, maka dibuanglah Ibrahim ke tempat yang jauh.
Namun Ibrahim ada dalam perlindungan Allah, sehingga tidak ada binatang buas yang sanggup mendekatinya. Selain itu, Ibrahim dikaruniai mukjizat berupa jempol yang dapat mengeluarkan cairan manis sehingga Ibrahim tidak merasa lapar atau haus.
Selama setahun Ibrahim tinggal di dalam gua. Setelah Ibrahim semakin dewasa, ayah dan ibunya akhirnya berani membawa Ibrahim kembali ke rumah. Suatu hari Ibrahim bertanya.
“Wahai ayah dan ibu, siapakah yang menciptakan aku?” ayahnya menjawab “Tentu saja ayah dan ibumu.”
Ibrahim bertanya lagi “Siapa yang menciptakan ayah dan ibu?” ayahnya menjawab “Kakek dan nenekmu.”
Ibrahim bertanya lagi “Lalu siapa yang pertama kali menciptakan semuanya?” namun ayahnya tidak menjawab karena tidak mengenal Allah.
Firman Allah SWT dalam QS.Al-An’am 76-79:
76. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.
77. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.
78. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
79. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Hidayah Allah
Dia memberi Hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. (QS. Al-Baqarah : 142)
Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al-baqarah : 213)
Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. QS. Al-An’am : 88)
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raaf : 178)
Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan) nya. (QS. Al-Anbiyaa’ : 51)
Penutup
Itulah cara Nabi Ibrahim alaihi salam  mencari Tuhan dengan menggunakan akal fikiran untuk memperhatikan alam sekitarnya.
Awwaluddin ma’rifatullah (Awal agama adalah mengenal Allah). Barangsiapa yang ingin mengenal Allah, maka kenali dirinya baru ia akan mengenal siapa Allah sesungguhnya, dimana Allah, dan kenapa kita harus menyembah Allah.

SEJARAH PEMIKIRAN MANUSIA TENTANG TUHAN.

SEJARAH PEMIKIRAN MANUSIA TENTANG TUHAN.
1.Pemikiran barat atau manusia primitive
Proses perkembangan pemikiran manusia tentang tuhan/ilah menurut teori evalusionisme adalah sebagai berikut :
a. Dinamisme
Paham ini mengaku adanya kekuatan (maging power) yang berpengaruh dalam kehidupan manusia,kekuatan ini terbentuk dalam kepercayaan hati yang ditujukan pada benda-benda yang dianggap keramat.
b. Animisme
Mempercayai adanya peranan roh dalam kehidupan manusia, roh dianggap selalu aktif walaupun sudah mati. Paham ini membagi roh atas dua yaitu roh baik dan roh jahat (nakal).
c. Politeisme
Paham ini mempercayai dan menganggap banyak dewa sebagai tuhan,sehingga dewa tersebut dipuja dan disembah oleh manusia.
d. Henotisme
Dari banyak dewa, manusia (orang yang meyakini) menyeleksi satu dewa yang dianggap mempunyai kekuatan lebiah, kemudian mereka anggap sebagai tuhan.
e. Monoteisme
Paham ini menyatakan satu tuhan untuk seluruh rakyat.

2.pemikiran Umat Islam
Islam mengawali pengenalan tentang tuhan bersumber pada tauhid,secara garis besar dalam islam ada 3 aliran :
a. mu’tazilah
kaum rasionalisme yang menekankan pemakaian akal pikiran dalam memahami semua ajaran dan keimanan dalam islam, paham ini menghasilkan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan.
b. Qadariah
Paham ini berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan dalam berkehendak dan berusaha.
c. Jabariah
Paham ini berteori bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan untuk berkehendak dan berbuat, tuhan ikut didalamnya bila manusia berbuat.

.Tuhan menurut agama-agama wahyu.

Informasi tentang asal-usul kepercayaan terhadap Tuhan antara lain dapat ditemukan didalam :

a.    Q.S Al-anbiyak ayat 92

               Dalam surat al-anbiyak ayat 92 dijelaskan kepada manusia bahwa sebenarnya    tidak ada perbedaan konsep tentang ajaran ketuhanan sejak dahulu sampai sekarang.Jika terjadi perbedaan-perbedaan ajaran tentang ketuhanan diantara agama-agama penyebabnya adalah karena perbuatan manusia.Ajaran yang tidak sama dengan konsep aslinya hal itu merupakan manipulasi dan kebohongan manusia yang teramat besar.

b.    Q.S al-maidah ayat 72

    Dalam surat al-maidah dijelaskan Tuhan yang haq dalam konsep al-qur’an adalah Allah hal ini antara lain dinyatakan dalam surat ali imran ayat 62 : “sesungguhnya ini adalah kisah yang besar,tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Allah dialah yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.

    Dengan mengemukakan alasan-alasan yang disebutkan diatas maka menurut informasi al-qur’an sebutan yang benar bagi Tuhan yang benar-benar Tuhan adalah sebutan “Allah” dan kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan melalui wahyu yang datang dari Allah.Keesaan Allah adalah mutlak.Dia tidak dapat didampingi atau disejajarkan dengan yang lain.Sebagai ummat islam yang mengikrarkan kalimat syahadat harus menempatan Allah sebagai prioritas utama dalam setiap gerak,tindakan dan ucapan.

Sabtu, 06 Juli 2013

KHOTBAH JUMAT Fase Kehidupan Dunia yang Sementara

ان الحمد لله الذى أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله. أرسله بشيرا ونذيرا وداعيا الى الله باذنه وسراجا منيرا. أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له. شهادة اعدها للقائه ذخرأ. واشهد ان محمدا عبده و رسوله. ارفع البرية قدرا. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا. أما بعد. فياأيها الناساعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ 
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita bersama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan mementingkan segala perintah-Nya dan mengalahkan urusan dunia. Sungguh urusan dunia itu hanyalah bersifat sementara.
Al-Qur’an telah menerangkan bahwa kehidupan di dunia ini adalah bagaikan sebatang pohon yang tumbuh, berkembang, berbuah, layu dan akhirnya mati musnah di telan bumi. Ada fase dalam kehidpan yang harus dilalui meskipun fase itu terkesan lama, sesungguhnya hanya amun-amun belaka 

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ 
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Imam Najmuddin an-Nasafi menafsirkan bahwa setiap fase kehidupan tersebut akan dilalui oleh manusia selama delapan tahun.
Pertama La’ibun secara bahasa berarti sebuah permainan. Permainan merupakan kata yang menunjuk pada tidak adanya keseriusan. Dalam bahasa Indonesia keseharian ‘mainan’ adalah anonim dari ‘beneran’.  Dengan kata lain, bahwa kehidupan di dunia ini bukanlah sesuatu yang beneran, tapi hanya bohongan. Rumah di dunia adalah rumah-rumahan, kawin di dunia adalah kawin-kawinan dan begitulah seterusnya.
Jika diterapkan penafsiran Imam Najmuddin dalam ayat ini, maka fase la’ibun ada fase pertama dari kehidupan manusia selama berumur 1-8 tahun yang berisikan permainan. Lihat saja anak-anak kita yang tidak terlalu banyak berpikir dalam usia tersebut. Bahkan begitu pentingnya permainan hingga diciptakanlah berbagai macam kelompok bermain (playgroup). Hal ini persis dengan apa yang dikatakan oleh Imam ar-Razi dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib, bahwa la’ibun merupakan karakter anak-anak yang tidak pernah memikirkan manfaat dari apa yang dilakukannya, karena semua itu hanya sekedar permainan.
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Kedua lahwun adalah sifat lalai yang terdapat dalam diri manusia, lalai karena tidak terbiasa berpikir panjang atau sengaja tidak mau berpikir panjang. Apa yang dilakukan selalu menurut tuntutan hawa nafsu. Tawuran, kebut-kebutan semua dilakukan tanpa ada pertimbangan, asal hati senang maka kakipun melangkah. Inilah sifat yang melanda anak manusia dalam fase kedua kehidupannya, ketika remaja berumur 9-16 tahun.
Ketiga zinatun, bahwa dunia ini adalah perhiasan semata. Dunia seisinya tidak lebih dari asesoris kehidupan. Imam ar-Razi mengatakan bahwa fase ini banyak menerpa kaum hawa. Ketika umur telah mulai menginjak tujuh belas tahu, maka mulailah perempuan itu menyadari akan keperempuanannya. Mulailah apa yang disebut dengan masa kedewasaan. Diantara tanda-tandanya adalah berlama-lama di depan kaca. Mematut muka, merias diri, memperbesar apa yang sekiranya masih kecil dan berusaha memperbesarkannya.
Begitu juga dengan masalah penampilan, fase kehidupan ini (17-24 tahun), anak manusia selalu ingin tampil mengagumkan. Motor harus ada, HP harus seri terbaru, kuliah harus diperguruan tinggi. Padahal jika dipikir lebih dalam, semua tuntutan itu hanya semakin menjauh dari subtansi kehidupan. Tidak peduli pengetahuan yang didapat, yang penting universitas yang terkenal. Tidak peduli dengan pantas atau tidak yang penting tampil keren dan mempesona. Sungguh semua itu adalah dalil betapa kehidupan dunia ini adalah asesoris belaka.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Keempat, tafakhurun baynakum artinya dunia menjadi tempat untuk saling bermegah-megahan, dunia menjadi media saling menyombongkan diri, atau dalam bahasa jawa disebut ‘anggak-anggakan’. Baik saling menyombongan kepunyaan maupun ke’turunan’. Biasanya dalam fase ini antara umur 25-32 tahun anak manusia mulai mencari jati dirinya. Dalam pencarian itulah ada kalanya dia membanggakan nasabnya, atau membanggakan milik ayahnya hanya sekedar ingin terlihat lebih di antara sesama.
Kelima takatsurun fil amwal, bahwa dunia ini adalah tempat memperbanyak harta dan keturunan. Inilah puncak dari fase kehidupan manusia ketika berumur 33 tahun dan seterusnya. Pada saat-saat inilah kita melihat semangat yang menggebu dalam diri manusia untuk berbisnis menumpuk harta Bahkan juga masa memanjakan anak dan keluarga. Maka janganlah heran jika para koruptor itu didominasi oleh orang orang muda yang ingin menumpuk harta.
Keenam takatsurun fil aulad, fase ini merupakan kelanjutan dari fase sebelumnya. Jika menuruti pendapat Iman Najmuddin an-Nasafi, maka umur empat puluh ke atas adalah masa yang wajar seseorag mulai memperhatikan kepentingan anak dan cucu-cucunya. Memabanggakan dan terlalu memikirkan kehidupan mereka. Seolah tidak tega jika melihat anak dan cucu itu terlantar hidupnya, maka diteruskanlah fase sebelumnya, sehingga para berkorupsi demi anak cucu dan bernepotisme menjalin jejaring yang kuat untuk mempertahankan kekayaan dan kehidupannya.
Maka menjadi tidak aneh, ketika kesempatan berkumpul dengan sesama dalam reoni keluarga atau reoni kawan lama yang akan dipertanyakan adalah berapa jumlah anak dan cucunya.
Inilah, keadaan  hidup di dunia. Jikalau kita tidak sekedar sadar diri niscaya kita akan terhanyut dalam arus yang makin menjauhkan hidup ini dari subtansinya. Semakin tersibukkanlah kita dengan remeh temeh keduniawian yang tidak ada putusnya, dunia bakagikan candu yang tidak mudah dihentikan.
Hadirin Jama’ah Jum’ah yang Dimuliakan Allah
Maka, begitulah remeh temeh perjalanan hidup di dunia dan betapa sebenatarnya kehidupan ini, sehingga ditamsilkan dalam ayat ini bagaikan umur tumbuhan yang tersiram , tumbuh, berbuah lalu hancur tak berbekas.
كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا
seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Oleh karena itulah sungguh beruntung mereka yang mengerti dan menyadarinya, lalu membenahi langkah dalam kehidupannya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

KHOTBAH JUMAT Siapkan Diri Hadapi Ramadhan yang Suci

الحمد لله الذى جعل رمضان شهر الصيام، والمغفرة، والرحمة والرضوان للمؤمنين . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أَهْلِ التقوَى والْمَعْرِفَةِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إلى يوم الدين.  أما بعد: فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فى كل وقت لعلكم تفلحون

Alhamdulillah / Sebentar lagi Ramadhan akan tiba, ruang paling berharga yang disediakan oleh Allah swt untuk para hamba guna meningkatkan kadar ketaqwaannya. karena segala amal pada bulan ini akan diimbal dengan berlipat ganda. namun demikian tidak semua hamba merasa akan keistimewaan ini, kecuali mereka yang sadar akan tumpukan dosa-dosa yang telah dilakukan.

Hadirin yang bebahagia Dengan hati yang tulus ihklas marilah sejenak kita wujudkan rasa syukur kita ini kepada Allah selain dengan memanjtkan puji-pujian juga meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kehadirat-Nya. Kita juga amat sangat bersyukur karena tanpa terasa Allah meridhai kita untuk bertemu kembali dengan bulan yang sangat agung yaitu bulan suci ramadhan. Kita menghadapi bulan ramadhan tahun 1434 H tinggal menghintung hari. Untuk itu menyambut kedatangnnya merupakan perbuatan yang terpuji dan mendapat ganjaran yang sangat berharga dari Allah Azza Wajalla.

Hadirin yang dirahmati Allah Secara historitas bahwa amaliah kaum muslimin dalam menyambut kedatangan bulan ramadhan tidak sedikit jumlahnya. Mulai dari mengumpulkan harta benda sebagai bekal untuk berpuasa selama sebulan penuh, bersilaturrahim dengan keluarga, kerabat maupun handaitolan untuk saling berma`af-ma`afan, ada juga yang menyambutnya dengan menanamkan sikap moril yang mendalam untuk termotivasi melakukan rangkaian amal ibadah di dalamnya, bahkan ada juga dari para sahabat, tabi`in, dan para ulama menyambut kedatangannya dengan bermuhasabah atau evaluasi diri tentang amal perbuatan yang telah dilakukan selama 11 bulan yang lalu dan masih banyak  lagi teknis-teknis lainya.

Hadirin yang berbahagia Melihat kondisi kita saat ini yang masih berada pada bulan sya`ban tentu menanamkan sikap senang dan gembira untuk meneliti, menghitung, merenungkan, dan mengevaluasi dosa-dosa atau amal perbuatan buruk yang telah dikerjakan selama sebelas bulan yang lalu merupakan amaliyah yang paling berharga bila dibandingkan dengan amaliyah lainya dalam menyambut bulan suci ramadhan. Sebab bulan ramadhan merupakan bulan suci yang dijadikan Allah agar hamba yang menghadapinya betul-betul ingin mensucikan dirinya. Sikap senang untuk mengevaluasi kesalahan yang lalu kemudian termotivasi dengan tulus ikhlas melaksanakan seluruh rangkaian ibadah pada bulan suci ramdahan adalah sikap yang dapat menjauhkan mereka dari sikasa api neraka. Seperti yang sering disampaikan Rasulullah kepada sahabatnya;
من فرح بدخول رمضان حرمه الله جساده على النيران.

Hadirin yang dirahmati Allah Sebagai wujud motivasi kita untuk mengevaluasi perbuatan yang telah lalu maka kita harus menjawab narasi pertanyaan berikut ini. Pernahkah kita menghitung dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, bahkan sepanjang usia kita? Andaikan saja kita bersedia menyediakan kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan,kira-kira, apa yang terjadi? kita dapat menduga kuat bahwa kotak tersebut tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menahan muatan dosa yang telah kita lakukan. Bukankah shalat kita masih " bolong-bolong "?.Bukankah shalat kita sering terlambat, dikerjakan mau habis waktunya dan tidak khusyuk? . Bukankah kita pernah menahan hak faqir miskin? Bukankah kita pernah, bahkan sering berbohong,  mengingkari janji, bersumpah dengan sumpah yang palsu, bersikap munafiq, mencerca manusia, mengejeknya, menuduhnya, berburuk sangka padanya, iri hati, hasad, mengobarkan rasa benci membenci ,dan dendam pada seseorang?
Bukankah kita pernah merasa diri paling benar, paling pintar dari orang lain, ta'adjub, riya, sombong, marah yang tak pada tempatnya, angkuh, congkak, merasa paling hebat, dan tinggi dari orang lain? Bukankah karena lidah kita, tangan kita, badan, kaki kita, mata dan hati kita pernah menyakiti manusia lainnya? Bukankah kita pernah menyelipkan kertas amplop pada petugas administrasi demi untuk kelancaran urusan kita, bermanis muka, lain di mulut, lain dihati, bersikap munafik pada pejabat dan penguasa, menyandarkan urusan padanya, agar kita dipandang pegawai yang baik dan banyak kerja, pada hakikatnya banyak yang tidak kita kerjakan, malah kita asyik berdiri di depan computer, chatting, face book, twitter, main game, dan melihat website atau situs-situs yang tidak baik melalui jaringan internet, menghabiskan waktu memakan harta yang tidak berhak kita makan, tanpa kita menyadarinya, bahwa hal itu bukan hak kita. Bukankah kita pernah menerima uang yang tak jelas statusnya, sehingga pendapatan kita berlipat ganda? Bukankah kita sering tak mau menolong orang yang  meminta bantuan pada kita, menolong saudara kita yang  dalam kesulitan, walaupun kita sanggup menolongnya?


Hadirin yang mulia Bulan ramdhan yang sebentar lagi kita hadapi merupakan momentum yang sangat berharga untuk merubah dan membenah diri. Bulan ramdhan adalah situasi yang amat ampuh untuk menjawab aneka pertanyaan di atas jika memang terbukti ada dalam masing-masing kepribadian kita karena bulan inilah bulan yang penuh ampunan, bulan yang penuh dihiasi dengan keridhaan, kasing sayang, dan lain sebagainya. Lalu yang harus kita lakukan adalah bertaubat seraya memohon ampun dan magfirah-Nya, mengharap ridhanya, merengkuh kasih dan sayangnya, berserah diri sepenunhnya. Seperti yang telah difirmankan  Allah SWT dalam surat Az Zumar ( 39 : 53 )

قل يعبادي الذين أسرفوا على انفسهم لاتقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعا إنه هو الغفور الرحيم 

"Katakanlah wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya ( kecuali syirik ). Sesungguhnya Dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang. "


Hadirin yang dimuliakan Allah Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan  panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allahpun menjanjikan kita untuk mengampuni dosa-dosa kita. Lebih kita memohon ampun pada bulan suci ramdhan yang akan kita hadapi ini. Karena itu, kosongkanlah lagi kotak-kotak yang penuh dengan dosa tadi dengan taubat padaNya. Kita kembalikan kotak itu seperti keadaannya semula, kita kembalikan jiwa kita kepada jiwa yang fitri dan bersih.


Jika kita punya emas serta mutiara, lalu tiba-tiba hilang, bukankahkita menjadi sedih? Bagaimana pula jika emas mutiara itu tiba-tiba kembali,bukankah kita merasa bahagia? begitu juga dengan dosa kita. Bukankan kita merasa bahagia jika jiwa yang banyak bergumul dosa lalu tiba-tiba kembali bersih sebening air yang kosong dari noda.  Rasulullah SAW bersabda : ketahuilah Allah akan lebih senang lagi melihat hambaNya yang berlumuran dosa kembali bertaubat kepadaNya.


Hadirin yang berbahagiaPerumpamaan orang yang bergumul dosa layaknya pesawat yang sesat jalan, dan mungkin telah tenggelam di dasar lautan samudra, mengapa kita tak berusaha berjalan kembali menuju Allah, dan menangis  di " kaki kebesaranNya ", mengakui kesalahan kita, dan  memohon ampunanNya. Mudah-mudahan Allah memberkan kita kekuatan dan kesadaran yang mendalam untuk merenungkan perbuatan kita selama sebelas bulan yang lalu untuk lebih memotivasi kita dalam melaksanakan rangkaian amal ibadah ramadhan dengan sikap tulus ikhlas yang dibingkai dengan sikap senang dan gembira pada tahun 1434 H kali ini amin. Dan marilah kita jadikan ramadhan kali ini sebagai ramadhan yang terakhir, Agar kita terus termotivasi dalam melakukan amal ibdah wajibah dan sunnah.      
Khutbah II

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.اللهم بارك لنا رجب وشعبان وبلغنا رمضان اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.