Minggu, 04 Agustus 2013

KHUTBAH IDUL FITHRI 14.....

Khutbah I (kesatu)

بسم الله الرحمن الرحيم

الله أكبر –9
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا . لااله إلا الله وحده . صدق وعده. ونصر عبده. وأعزجنده وهزم الأحزاب وحده . لااله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون

الحمد لله , الحمد لله رب العلمين , والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين, وعلى آله وصحبه حملة لواء الدين , وانجم الهداية للمقتدين والواصلين
اشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له الملك الحق المبين . واشهد أن محمد عبده ورسوله النور المبين والسراج المنيرخاتم النبيين.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله واصحبه وأزواجه وذرياته ومن تبعهم إلى يوم الدين

أما بعد : فيا إخوان الكرام , اتقوا الله تعالى فقد فاز المتقون.
قال الله تعالى في القران الكريم : قد أفلح من تزكى وذكر اسم ربه فصلى . بل تؤثرون الحياة الدنيا والآخرة خير وأبقى

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا(1)لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا(2)وَيَنْصُرَك

َ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا(3)هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd. Ma’a-syiral Muslimi-na Rahimakumulla-h.
Setelah orang-orang beriman menunaikan kuwajiban ibadah puasa selama tiga puluh hari penuh di bulan suci Ramadhan, setelah mereka menyempurnakan keberkahan bulan itu dengan ibadah tambahan, seperti shalat tarawih dan tadarus, dan setelah mereka menutup penghujung bulan itu dengan menunaikan shadaqoh dan zakat fitrah dengan ihlas sehingga diterima di sisi Allah dengan peneriman yang baik, maka pada tanggal 1 (satu) syawal anak Adam kembali kepada fitrahnya.
Hari ini idul fitri. Sejak kemarin sore hingga semalaman dan sampai fajar pagi, dari segala penjuru belahan bumi, kalimat takbir, tahmid dan tahlil dikumandangkan bersama-sama. Bertalu-talu menghentak rongga dada dan merontokkan isinya. Mengguncang suasana, memeras hati dan menguras air mata. Menghidupkan hati mati, menggugah yang malas, mengingatkan yang lupa. Sedih menjadi gembira, derita dan nestapa menjelma bahagia. Yang keras dan kasar menjadi lentur, dendam dan iri dilupakan, dosa dan salah dimaafkan. Semua itu melebur menjadi kenikmatan azali, menyatu mengikuti irama syahdu silih berganti. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd.
Sungguh Maha Besar Allah dengan segala ciptaan dan kekuasaan-Nya meski sekalipun tidak pernah ditakbirkan oleh siapa-siapa. Sungguh Allah tidak butuh dengan segala takbir itu. Akan tetapi di saat yang sangat bahagia ini agar Allah dirasa Besar di dalam dada hamba-Nya. Di dalam hati orang beriman yang telah melaksanakan tazkiyah sebulan penuh di bulan suci Ramadhan.
Dengan tazkiyah itu orang beriman membakar dosa dan kesalahan dengan api lapar dan dahaga. Menyepuh karakter yang berkarat dengan bara penyesalan dan taubatan nasuha. Memadamkan api amarah dan dendam dengan salju pengampunan. Mengosongkan rongga dada dari sifat sombong dan angkaramurka dengan tarawih dan tadarus malam. Selanjutnya, menjelang bulan Syawal (bulan peningkatan) tiba, di malam itu, mereka memancarkan kasih sayang dan pengampunan dengan shadaqah dan zakat fitrah.
Ketika hati telah menjadi putih bersih, kembali kepada fitrahnya, maka takbir disemaikan di dalamnya, agar Allah benar-benar Maha Besar di sana sehingga dunia dan isinya menjadi terasa kecil dan tidak mengusik lagi meski orang-orang beriman itu terpaksa harus bergelimang dengannya sepanjang tahun.
Paginya, di masjid yang mulia ini, dengan seluruh pemilikan yang ada, baik ucapan perbuatan maupun rasa, bersama seluruh keluarga dan handai taulan, hamba-hamba yang rindu kepada Junjungannya itu bersama-sama melebur menjadi satu. Larut dalam satu rasa dan nuansa. Menyatukan perasaan menghadap kepada-Nya untuk melahirkan kebesaran itu. Melahirkan rasa syukur, bahwa dengan Kebesaran itu, kali ini mereka mampu membesarkan-Nya.
Bahkan sejak sebulan penuh selama bulan Ramadhan. Dengan puasa maupun qiyamullail serta tadarusnya, mereka telah berusaha memasukkan Kebesaran itu di dalam hidupnya, di dalam jiwanya, dengan harapan, semoga yang sudah dilaksanakan itu diterima di sisi-Nya. Selanjutnya, semoga segala yang hina dimuliakan, segala yang rusak diperbaiki, segala yang kurang ditambahkan, yang sakit disembuhkan, yang sembuh disehatkan dan yang sehat dikuatkan demi Kebesaran-Nya yang abadi.
Itulah Idul Fitri, artinya kembali kepada Fitrah. Manusia telah kembali kepada asalnya, Kembali suci bersih, Kembali tidak punya dosa sehingga karakter mereka menjadi jernih. Karakter manusia telah kembali bersih dari hasut dan sombong, dari riya’ dan dengki sebagaimana pertama kali mereka dilahirkan oleh ibunya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd. Ma’a-syiral Muslimi-na Rahimakumulla-h.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mem¬persekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (QS.An-Nisa’(4);48).
Selain dosa syirik, terhadap orang-orang yang dikehendaki, Allah Maha Penerima taubat dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Rahmat Allah jauh lebih besar dibandingakan dosa-dosa hamba-Nya meskipun juga, tiada dosa kecilpun yang akan terlepas dari keadilan-Nya. Allah merasa sangat gembira kepada seorang hamba yang mau bertaubat. Allah bahkan lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya dibandingkan gembiranya orang yang menemukan untanya kembali setelah beberapa saat hilang. Unta itu pergi dengan membawa perbekalan makan dan minum di dalam perjalanan di kawasan yang tandus dan kering. Di saat musafir padang pasir itu beristirahat, diam-diam untanya meninggalkan dirinya dengan membawa seluruh perbekalan. Setelah dia mencari unta itu kesana kemari dengan susah payah dan tidak berhasil menemukan, dalam keadaan sangat lapar dan haus, dia berteduh di bawah pohon dengan penuh putus asa. Dia hanya dapat menunggu saat kematian datang sambil berbaring di atas akar pohon tersebut.
Dalam keadaaan seperti itu tiba-tiba unta yang dicari itu datang dengan seluruh perbekalan masih utuh. Lalu dia memegangi tali kekang unta itu sambil berkata dengan tanpa sadar atas kesangatan gembira yang dirasakan: “Ya Allah! Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu”. Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya dibandingkan kegembiraan orang tersebut. Rasulullah SAW meriwayatkan peristiwa itu denan sabdanya :
حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT lebih merasa gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kamu di saat di dalam perjalanan di kawasan tandus (kering kerontang). Ketika berhenti beristirahat kemudian untanya berjalan perlahan-perlahan meninggalkannya sambil membawa perbekalan makanan dan minuman. Setelah dia mencari kesana-kemari dengan susah payah kemudian bernaung di bawah keteduhan bayang-bayang pohon serta berbaring di atas pokok akar dengan penuh rasa putus asa, dalam keadaaan yang demikian kemudian dengan tiba-tiba unta yang dicarinya muncul di sisinya. Dia terus memegang tali unta itu. Kemudian berkata dengan tanpa sadar atas kesangatan gembira yang dirasakannya: “Ya Allah! Engkau hambaku dan aku tuhan-Mu”. Karena ingatannya diputus oleh rasa kegembiraannya.
1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Doa hadits nomor 5834.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Taubat hadits nomor 4932.(CD. al-Bayan)
Di dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda:
حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ
Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri RA berkata: Nabi SAW bersabda: Seorang lelaki dari kalangan ummat sebelum kamu telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang, lalu dia mencari seorang yang paling ‘alim di daerah itu. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang pendeta, dia datang menjumpai pendeta tersebut dan berkata: Aku telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang, adakah taubatku bisa diterima? Pendeta itu menjawab: Tidak. Mendengar jawaban seperti itu, langsung saja pendeta itu dibunuhnya, maka genaplah seratus orang yang telah dibunuhnya. Tanpa putus asa dia mencari lagi seseorang yang paling ‘alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang Ulama, dia menjumpai Ulama tersebut dan berkata: Aku telah membunuh sebanyak seratus orang. Adakah taubatku masih bisa diterima? Ulama itu menjawab: Ya! Siapakah yang dapat menghalangi kamu untuk bertaubat? Pergilah ke negeri si fulan, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan pulang ke negerimu, karena lingkungan di negerimu sangat jelek.
Lelaki itu berangkat menuju tempat yang ditunjukkan. Ketika berada di pertengahan perjalanan tiba-tiba dia mati, kematian itu menyebabkan Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab bertengkar. Malaikat Rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah, sedangkan Malaikat Azab berkata: Dia belum melakukan suatu kebaikanpun. Lalu Malaikat yang lain datang dalam keadaan ujud manusia dan melerai mereka sambil berkata: Ukurlah jarak di antara kedua tempat. Mana yang lebih dekat itulah tempatnya. Lantas mereka mengukurnya. Ternyata mereka dapati lelaki tersebut lebih dekat kepada negeri yang ditujunya. Akhirnya dia diambil oleh Malaikat Rahmat
1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Cerita-cerita Para Nabi hadits nomor 3211.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Taubat hadits nomor 4167.(CD.al-Bayan)
Taubat yang dilakukan seorang hamba harus dimulai dari hati. Orang yang bertaubat harus sadar akan dosa-dosa yang sudah diperbuat dan menyesali lalu ditindaklanjuti dengan amal sholeh. Dalam arti meninggalkan segala kejelekan yang pernah dilakukan dan menggantinya dengan amal ibadah dan pengabdian yang hakiki. Disamping itu, supaya taubat tersebut bisa dilaksanakan dengan benar, orang yang bertaubat harus mendapat bimbingan guru ahlinya. Hal itu diisyaratkan Nabi SAW dalam sabdanya di atas; “Laki-laki tersebut bertanya kepada orang-orang yang paling ‘alim di negerinya”.
Ketika taubat sudah dilakukan sunguh-sungguh, meski taubat itu baru dilakukan pada tahap awal. Bahkan sebelum orang yang bertaubat itu selesai melaksanakan taubatnya, orang itu mati di tengah perjalanan, ternyata taubatnya diterima di sisi Allah, padahal orang itu bertaubat dari dosa membunuh seratus orang. Itu menunjukkan, betapa rahmat Allah jauh lebih besar dibandingakan dosa-dosa hamba-Nya, namun tentunya, asal seorang hamba bersungguh-sungguh dalam melaksanakan taubat kepada-Nya.
Hadits tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi hamba Allah yang beriman. Tuntunan yang diajarkan Allah melalui rasul-Nya. Orang beriman tidak harus putus asa terhadap dosa-dosa yang sudah mereka perbuat. Sebesar apapun dosa itu, asal bukan dosa syirik, manakala mereka bersungguh-sungguh bertaubat, niscaya Allah akan mengampuninya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd. Ma’a-syiral Muslimi-na Rahimakumulla-h.
Berikut ini Kisah “Dahyah Al-Kalbi” salah satu raja suku bangsa Arab yang masuk islam di hadapan Baginda Nabi SAW dengan seluruh anggota keluarganya.
Diceritakan bahwa Rasulullah SAW menyukai Islamnya Dahyah al-Kalbi. Karena dia masuk islam bersama 600 anggota keluarganya di hadapan Nabi. Suatu saat Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah masukkanlah Dahyah al-Kalbi ke dalam Islam”. Saat Dahyah menginginkan masuk Islam Allah mewahyukannya kepada Nabi SAW setelah salat subuh. “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mengirimmu salam dan berfirman bahwa Dahyah akan menemuimu sekarang”.
Hati para sahabat diliputi rasa takut terhadap Dahyah pada masa Jahiliyah. Saat Sahabat mendengar berita tersebut, mereka tidak menginginkan Dahyah berada di tengah-tengah mereka. Rasulullah SAW mengetahuinya, beliau ingin menunjukkan kedudukan Dahyah. Rasulullah SAW tidak ingin bila Dahyah masuk Islam, lalu diperbincangkan dan dilemahkan hatinya. Karenanya, saat Dahyah masuk masjid, Nabi SAW mengangkat sorban dari punggungnya kemudian menghamparkan ke bumi dihadapannya sambil berkata, “Dahyah kemarilah”, Nabi SAW menunjuk kepada sorban itu.
Dahyah menangis melihat kemuliaan akhlak Rasulullah SAW tersebut. Dia mengangkat sorban Nabi, mencium dan meletakkan di atas kepala dan matanya. Dia berkata, “Apakah persyaratan masuk Islam? Terangkan kepadaku,” Rasulullah SAW bersabda, “Pertama kali hendaklah engkau membaca “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah”. Lalu Dahyah mengucapkan syahadat sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya, “Apakah arti tangisan ini padahal engkau telah dikaruniai Islam?” dia menjawab, “Sungguh aku telah melakukan dosa sangat besar, tanyakan kepada Tuhanmu apakah tebusannya? Bila Dia memerintahkan aku membunuh diriku, niscaya aku lakukan. Bila memerintahkan untuk mengeluarkan semua hartaku niscaya akan aku tunaikan”
Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kesalahanmu wahai Dahyah?” Dahyah menjawab. “Aku adalah salah seorang raja bangsa Arab dan aku tidak ingin anak-anak perempuanku bersuami, hingga aku telah membunuh 70 anak perempuanku dengan tanganku sendiri.” Nabi SAW bingung mendengar cerita itu sehingga malaikat Jibril turun dan berkata: “Wahai Muhammad, sungguh Allah telah mengucapkan salam buatmu dan berkata kepada Dahyah, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, ketika engkau mengatakan ”Tiada Tuhan selain Allah,” Aku telah mengampuni dosa kafir dan kejahatanmu selama 60 tahun, bagaimana Aku tidak mengampuni dosamu yang akibat membunuh anak-anakmu itu ? “
Nabi SAW dan para sahabat menangis. Nabi SAW bersabda: “Ya Allah, Engkau telah mengampuni Dahyah yang telah membunuh 70 anaknya sendiri dengan hanya membaca syahadat sekali, maka bagaimana Engkau tidak mengampuni dosa orang-orang beriman yang setiap hari membaca syahadat dan berkata benar serta ikhlas. ( Hikayat Ash-Shufiyah. Muhammad Abu al-Yusr Abidin)
Dosa Dahyah adalah dosa yang dilakukan sebelum Islam. Meski dengan kejahatan selama 60 tahun, dosa tersebut dapat terhapus hanya dengan sekali membaca dua kalimat syahadat. Berbeda dengan dosa yang dilakukan oleh orang beriman, terlebih jika mereka sengaja melakukannya. Dosa yang sengaja dilakukan itu tidak cukup dapat dihapus dengan membaca kalimat syahadat saja, meski dua kalimat syahadat itu dibaca berulang-ulang pada setiap mereka melaksanakan sholat. Dosa tersebut harus ditaubati dengan sungguh-sungguh, sampai Allah benar-benar mengampuninya. Namun demikian orang beriman tidak boleh putus asa terhadap rahmat Allah, meskipun dosanya lebih besar dari gunung Uhud, rahmat Allah jauh lebih besar lagi. Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang(QS.Az-Zumar(39);53).
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd. Ma’a-syiral Muslimi-na Rahimakumulla-h.
Bulan suci Ramadhan dengan segala keutamaannya, baik rahmat, magfirah dan kebebasan dari neraka, hendaknya dapat kita jadikan momentum. Dengan ibadah utama itu menjadikan dosa-dosa orang beriman diampuni sehingga mereka menjadi orang yang bertakwa. Dalam kaitan ini maka kita bisa menambil kesimpulan: Yang dimaksud Hari Idul Fitri bukan hanya dengan memakai pakaian baru, makan yang baik-baik, memakai perhiasan yang indah-indah, bersenang-senang dengan keni’matan dan memperturutkan nafsu syahwat. Idul Fitri adalah menampakkan tanda diterimanya ta’at, dihapusnya dosa dan kesalahan, digantinya kejelekan dengan kebaikan, melahirkan kegembiraan dengan diangkatnya tingkat derajat dan kemulyaan di sisi Allah Ta’ala, lapangnya dada dengan Nur iman dan Ma’rifatullah, tenangnya hati dengan yakin dan dengan apa lagi yang munculnya oleh tanda-tanda yang lain, yakni memancarnya samudera ilmu dari hati melalui lisan dan ucapan berupa untaian kata-kata bijak dan kata-kata mutiara serta puisi dan sastra.
Hal tersebut sebagaimana yang pernah terjadi dari peristiwa seorang laki-laki ketika bertamu ke Rumah kediaman Imam Ali RA. pada hari Id. Dijumpainya Imam Ali RA. sedang makan tepung gandum kasar. Laki-laki itu bertanya: Hari ini adalah hari raya, mengapa Anda makan tepung gandum yang kasar ini?. Imam Ali RA. menjawab: Hari raya Idul Fitri adalah hari raya bagi orang yang puasanya diterima di sisi Allah, perjuangannya di sampaikan dan dosanya diampuni. Maka hari ini bagi kita hari raya, besuk juga hari raya, dan setiap hari dimana kita tidak berbuat ma’shiat berarti hari raya. Maka sayogyanya bagi orang berakal tidak memandang hari raya Id dengan pandangan dan penilaian yang lahir saja, tetapi juga yang batin dengan kaca mata tafakkur dan i’tibar. (Al-Ghunyah. 2/22)

قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون : لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم . ثم رددناه أسفل سافلين . إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات فلهم أجر غير ممنون
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم
وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين
Khutbah II (kedua)
الله أكبر –9 الله أكبر ولله الحمد
الحمد لله , الحمد لله الذى جعل الدين رباطا متينا بين قلوب المؤمنين . وامربالاتحاد والتعاون ونهى عن التفرق والتنازع فى كتابه المبين
اشهد أن لا اله إلا الله القوى المتين . واشهد أن محمد عبده ورسوله ذوالقلب الرحيم والخلق العظيم وسيد الأنبياء والمرسلين
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وأزواجه وذرياته الذين طابت نفوسهم وصغت قلوبهم فكانوا هم السادة المنصورين
أما بعد : فيا إخوان الكرام , اتقوا الله تعالى فقد فاز المتقون
قال الله تعالى : لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ(4)ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ(5)إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ(6)
وقال أيضا : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما باركت على سيدنا إبرهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.
اللهم ارضى عن الخلفاء الراشدين امراء المؤمنين سادتنا أبي بكر وعمر وعثمان وعلي رضي الله عنهم وعن بقية الصحابت أجمعين وعنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين .
اللهم إغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحيآء منهم والأموات . إنك سميع قريب مجيب الدعوات وقاضي الحاجات
اللهم كما أنعمت علينا بالاسلام فزدنا منه ……..
اللهم حسن إيماننا بالتوفيق وزين سرائرن بالتحقيق
ربنا آتنا فى الدنيا حسنة ………
عباد الله , إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فأذكروا الله أذكركم وأشكروه على نعمه يزدكم وأسئلوه من فضله يؤتكم . ولذكرالله أكبر

Tidak ada komentar:

Posting Komentar