Jumat, 31 Agustus 2012

Kriteria Memilih Pemimpin Dalam Islam

Kriteria Memilih Pemimpin Dalam Islam

Memilih pemimpin dalam islam bukanlah perkara sederhana, ia merupakan hajat besar kehidupan manusia. Memilih pemimpin tidak sekedar perkara cabang dalam agama, namun bagian dari masalah prinsip.
 
Firman Allah : "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu." (QS Al-Maidah :3)
Ayat tersebut turun beberapa bulan sebelum Rasulullah wafat, tepatnya pada waktu haji wada' (haji perpisahan). Yang mana dengan turunnya ayat tersebut menunjukan bahwa agama Islam ini telah sempurna tidak kurang sedikitpun.

Agama Islam adalah agama yang universal (syamil), yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia baik yang berhubungan dengan Allah (Hablu minallah) atau pun yang berhubungan dengan manusia (Hablu minannas). Mengatur manusia dari tata-cara masuk toilet sampai tata cara memilih pemimpin.

Memilih pemimpin dalam islam bukanlah perkara sederhana, ia merupakan hajat besar kehidupan manusia. Memilih pemimpin tidak sekedar perkara cabang dalam agama, namun bagian dari masalah prinsip. Dalam komunitas kecil saja kita diperintahkan untuk memilih seseorang menjadi pemimpin, sebagaimana Rasulullah bersabda : “Tidak boleh bagi tiga orang berada dimanapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin) ”. (HR Ahmad), apalagi memilih pemimpin untuk mengurus ummat ini.

Sungguh, penisbatan berkhianat kepada Allah , Rasul-Nya dan kaum mukminin, merupakan ancaman keras bagi siapapun yang tidak bertanggung jawab dalam memilih pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)
 
Dalam hadits lain Rasulullah. bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah.: “Dulu Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan ada nabi sesudahku. Akan tetapi, nanti akan ada banyak khalifah. “Para sahabat bertanya, “Apakah yang Engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab, “Penuhilah baiat yang pertama dan yang pertama itu saja. Berikanlah kepada mereka haknya, karena Allah nanti akan menuntut pertanggungjawaban mereka atas rakyat yang dibebankan urusannya kepada mereka.” (HR Muslim).

Dari hadis di atas, tampak bahwa Islam memiliki ciri khas tersendiri dalam perkara kepemimpinan. Yaitu keharusan adanya seorang pemimpin dalam seluruh perkara, apalagi perkara besar seperti negara. Sebab, tidak akan ada gunanya pelaksanaan suatu sistem apabila tidak ada orang yang memimpin pelaksanaan sistem tersebut.

Seorang pemimpin adalah pribadi yang sangat menentukan bagi suatu umat atau bangsa.

Menentukan karena dengannya sebuah Negara bisa maju atau mundur. Bila seorang pemimpin tampil lebih memihak kepada kepentingan dirinya, tidak bisa tidak rakyat pasti terlantar. Sebaliknya bila seorang pemimpin lebih berpihak kepada rakyatnya, maka keadilan pasti ia tegakkan.
 
Sungguh benar perumpamaan yang mengatakan bahwa pemimpin adalah nakhoda bagi sebuah kapal. Sebab Negara ibarat kapal yang didalamnya banyak penumpang. Para penumpang seringkali tidak tahu apa-apa. Maka selamat tidaknya sebuah kapal tergantung nakhodanya. Bila nakhodanya berusaha untuk menabrakkan kapal ke sebuah karang, tentu bisa dipastikan bahwa kapal itu akan tenggelam dan semua penumpang akan sengsara.

Oleh karena Untuk dapat menghasilkan pemimpin yang dapat memikul amanah yang dipercayakan kepadanya. Dalam memilih pemimpin Alquran dan Hadits telah memberikan petunjuk, baik secara tersirat maupun tersurat.
Diantara kriteria pemimpin yang harus kita pilih adalah :

1. Seorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah
Karena ini merupakan jalan kebenaran yang membawa kepada kehidupan yang damai, tentram dan bahagia dunia maupun akherat. Disamping itu juga harus yang mengamalkan keimanannya itu yaitu dalam bentuk amal saleh. Allah berfirman : “Dan jadikanlah kami sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS Al-Furqan : 74). Dalam ayat lain Allah berfirman : “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS Ali Imran )
2. Berilmu
Yang dimaksud dengan ilmu tidaklah hanya terbatas pada al-tsaqafah (wawasan). Wawasan hanyalah sarana menuju ilmu. Ilmu pada dasarnya adalah rasa takut kepada Allah. Karena itulah Allah berfirman,”Yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah para ulama” (QS. Faathir: 28). Ibnu Mas’ud pun mengatakan,”Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu adalah rasa takut kepada Allah”.Marilah kita tengok bagaimanakah kriteria para penguasa yang digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini kita akan mengamati sosok Raja Thalut (QS. Al-Baqarah: 247), Nabi Yusuf (QS. Yusuf: 22), Nabi Dawud dan Sulaiman (Al-Anbiya’: 79, QS Al-Naml: 15).
3. Memiliki kekuatan Fisik (sehat jasmani dan rohani)
Ini terungkap dalam Alquran surat Al-Qashash ayat 26 : “Sesungguhnya orang yang paling baik engkau tugaskan adalah yang kuat…”. Kekuatan fisik merupakan syarat utama dalam memegang tanggung jawab berat mengurus umat. Dengan stamina yang prima pemimpin akan maksimal mencurahkan tenaga, pikiran dan waktunya mengurus umat. Bukan sebaliknya, umat yang memikirkan dan mengurus pemimpin yang sakit-sakitan. Kriteria kuat fisik ini menjadi salah satu alasan Nabi untuk tidak memberikan jabatan kepada Abu Dzar. “Wahai Abu Dzar, aku melihat engkau lemah. Aku suka untukmu apa yang aku suka untuk diriku. Karena itu, jangan memimpin (walau) dua orang dan jangan pula menjadi wali bagi harta anak yatim” (HR Bukhari Muslim).
4. Bersikap adil, jujur dan dapat dipercaya
Allah berfirman : “Sesungguhnya engkau menurut penilaian kami adalah orang yang kuat lagi terpecaya” (QS. Yusuf: 54). Sifat terpercaya berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri, tidak menyelewengkan jabatan untuk mencari keuntungan secara tidak sah. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh) apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia, supaya menetapkan dengan adil” (Qs. An-Nisa : 59). Rasulullah bersabda tentang pemimpin yang adil : “Orang yang bakal paling dikasihi oleh Allah dan yang paling dekat di sisi-Nya kelak pada hari berhisab ialah pemimpin yang adil, dan orang yang bakal paling dibenci Allah pada hari berhisab dan bakal menerima siksa azab yang sangat pedih adalah para pemimpin yang dzalim.” (HR Tirmidzi)
5. Konsekuen memikul tanggung jawab (Amanah
Maksudnya adalah melaksanakan aturan-turan yang ada dengan sebaik-baiknya dan bertanggungjawab terhadap peraturan yang telah dibuat. Dan tentunya peraturan yang dibuat itu yang berpihak kepada rakyat dan tidak bertentangan dengan hukum Allah dan rasul-Nya.
6. Memiliki keberanian (tegas) menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar
Syarat terakhir yaitu keberanian karena tanpa keberanian, segala sifat-sifat terdahulu tidak akan dapat dijalankan secara efektif. Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta melaksanakan aturan hukum yang sesuai dengan hukum Allah dan rasul-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar