Minggu, 22 Desember 2013

Kala Kuingat Ibuku

Kala Kuingat Ibuku

Maaf ini repost dari yang sudah pernah ada, mengingat hari ini adalah Hari Bunda se-Indonesia tidak salah jika saya memodifikasi sedikit sugesti olah rasa dengan kalimat demi kalimat berikut :

Tariklah nafas yang dalam dan panjang
Biarkan nafas itu mengalir perlahan
dalam ritme yang agung
Alunkan syair ini mengalir dalam diri anda

BAYANGKAN
BAYANGKAN
BAYANGKAN

Wajah ibu anda sekarang
Wajah Bunda yang semakin tua
Semakin renta dirambat usia
Semakin lusuh, layu, diserap waktu

Bayangkan
Wajah ibu ANDA saat masih mudanya
Dalam bingkai pigura di masa emasnya
Berpasangan dengan Ayah ANDA yang gagah dan tampan
Mereka berdua bersanding bersama di pelaminan
Sambil tersenyum kepada ANDA
Wajah ibu ANDA gembira sekali, Bahagia sekali waktu itu
Waktu bergulir, hari berganti, masa bertambah
Bunda gembira karena tengah mengandung anaknya
Betapa bahagianya bunda dengan kandungannya ini
Dalam kandungannya itu ANDA tengah dibentuk
Tiap hari Bunda menyenandungkan alunan merdu mendayu-dayu
sambil mengelus perutnya yang semakin membesar
Pertanda Sang Jabang Bayi tengah merasakan bahagia
walau tak melihat namun turut merasa elusan Bunda
Tiba harinya, Sang Bunda gundah gulana sangat takut
Akankah Sang Jabang terlahir selamat ?
Ataukah aku yang tidak selamat (Ujar Bunda membatin)
Bunda sekuat tenaga, mengerang, merintih, berteriak, mendorong,
memaksa sesuatu yang maha dashyat
mengerahkan seluruh energinya untuk memompa
gelora darah membahana menciprat ke seluruh raga
Sampai waktunya, terdengar jerit tangis erangan tak berdaya
dari buah hati si kecil mungil yang baru tiba di dunia
lahirlah ANDA
erangan si mungil membahana ke seluruh persada jagat raya
Dalam keadaan bersimbah darah ANDA diraup oleh suster untuk dibersihkan,
dibersihkan jalan nafasnya agar bisa menghirup udara segar sebebas-bebasnya
dibersihkan dari kulit ari-ari yang menutup kulit
agar terbebas dengan leluasa bergerak di atmosfer semesta
Sementara Bunda dibiarkan telentang tak berdaya
mengumpulkan kembali jiwa dalam tumpukan raga
setelah berjuang melahirkan putranya
Dalam keadaan lemas tak bertenaga, Bunda hanya bisa berpasrah diri
menghitung dan berkira-kira
Bagaimana keadaan anakku ? Sehatkah dia ?
Bagaimanakah rupanya ? Sempurnakah dia ?
Dan akhirnya, sang bayi kecil diserahkan kembali kedekapan Ibu Tercinta
Bunda mulai meraba tangan kecil nan mungil
masih bersaput merah merona,
Tangan yang hangat dan lembut
Dimulainya dari tangan kanan sang Bayi mungil
Dihitungnya jari-jemari kecil itu, … satu, dua, tiga, empat, lima …
Ah … sempurna, pekik Bunda dalam hatinya …
Tangan mungil yang kiri kembali dilirik bunda sambil dijaga
didekapan di dadanya
Juga dihitung sempurna …

Kembali dipandangnya kedua bola mata mungil
Diciumnya kedua pelupuk mata sang Bayi Kecil
Sambil didekap mesra dan hangat
Lucunya binar sepasang bola mata kecil ini …

Tak terasa air mengalir menetes di kedua pipi Mama
Ah Tidak sia-sia aku mengandung 9 bulan 10 hari
ujar Bunda dalam hati
Sambil memandangi wajah mungil sang bayi
yang baru saja dibawa ke muka bumi
Bayangkan betapa bahagianya Bunda
memandangi ANDA yang baru tiba di dunia

Kini raut wajah bunda semakin tua,
semakin renta, semakin kusut, semakin rapuh, semakin tak berdaya,
Rona wajah Bunda penuh kesedihan, bercampur kekesalan
Mengapa anakku yang kulahirkan dulu,
Tanpa mempertimbangkan keselamatanku,
Kupertaruhkan jiwa ragaku untuk membesarkan dan melahirkannya
Sekarang berbeda, Sekarang Ia Berubah !
Sekarang Ia berani melawan aku,
Sekarang Ia berani mencaci diriku,
Sekarang Ia berani memarahi aku,
Ujar Bunda dalam hatinya!
Apakah Karena Bunda tidak pandai,
Apakah Karena Bunda tidak tinggi sekolahnya,
Apakah Karena Bunda kuno,
Apakah Karena Bunda kolot,
Apakah karena bunda kurang pergaulan, tidak modis, jadul, mainstream
Ataukah karena Bunda tidak mengerti
anak muda zaman sekarang
yang serba penuh kemajuan dan perubahan

Bunda ketinggalan zaman
Bunda pun perlahan ditinggalkan

Bunda Merana, Bunda Sengsara, Batin Bunda Meronta
Hati Bunda pilu, merintih, pedih perih layak diiris sembilu

Akankah Ananda biarkan Bunda larut dalam kesedihannya ?
Akankah Ananda  biarkan Bunda merana dalam laranya ?
Akankah Ananda bersikukuh dengan pikiran Anda ?

Sudikah Ananda memaafkan Bunda ?
Bersediakah Ananda memahami Bunda ?
Maukah Ananda  bersujud dikaki Bunda ?

Bunda yang sudah memelihara ananda
Bunda yang sudah membesarkan ananda
Bunda yang tetap memberi semangat
Bunda yang tidak surut tetap berada di samping Ananda
Bunda menjadi teman bermain ananda
Bunda menjadi sahabat terkarib ananda
Bunda tempat curahan hati kekesalan ananda
Bunda tempat sandaran hati ananda

Biarkan mengalir
Gelombang Penyesalan
Biarkan air mata permohonan mengalir deras bak hujan lebat tak berkesudahan
Biarkan batin Ananda berkecamuk, remuk redam
Jangan dilawan, biarkan lepas, biarkan bebas,
bebaskan tangisan Ananda
Bebaskan perlawanan Ananda
Hanyutlah dalam arus sungai penyesalan
Mengalirlah deru pertobatan
Biarkan kedamaian itu merasuk kalbu
Turutlah irama itu
Ikutilah gelombang kedamaian itu
Biarkan damai itu hinggap
dan jangan terlepas lagi
Jangan ….
Terlepas ….
Lagi ….

Mengingat jerih payah kaum Ibu, Kaum Perempuan yang kami hormati dan sayangi
Bertaut penyesalan dan kerinduan akan perjuangan dan perhatian mereka kepada kami
Wahai Ibu, terimalah sujud anandamu
Kasihmu tiada taranya
Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2013

Rangkuman Materi Diklat Implementasi Kurikulum 2013

Rangkuman Materi Diklat Implementasi Kurikulum 2013


K13Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 telah selesai dilaksanakan, pemahaman masing-masing instruktur nasional, guru inti,kepala sekolah dan guru sasaran tidak semuanya sama. Beberapa persepsi yang berbeda mengalir di sekolah masing-masing. Kondisi ini sedikit banyak menimbulkan beberapa pertanyaan yang tidak bertepi dan dapat menjadi resistansi berkelanjutan terhadap implementasi Kurikulum 2013. Dalam kesempatan ini saya mencoba membuat resume atas beberapa pertanyaan yang berkembang selama ini, dimana saya mulai dengan memberikan gambaran konsep inti Kurikulum 2013 diantaranya :
  • Bahwa Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan dan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi
  • Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa”.
  • Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
  • Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”
  • Dimana hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, (Observing) menanya (Questioning), menalar (Associating) , mencoba (Experimenting) membentuk jejaring (Networking) untuk semua mata pelajaran.
Dengan demikian Implementasi Kurikulum 2013 disekolah SMA/SMK yang benar-benar murni menggunakan Kurikulum 2013 hanya 3 Mata Pelajaran yaitu Matematika, Sejarah Indonesia dan Bahasa Indonesia. Selain ke 3 Mata Pelajaran tersebut sekolah MASIH TETAP menggunakan KTSP namun dengan Pendekatan Ilmiah (Scientific Approach) dan Integrasi Ke-3 Ranah..
Jadi yang perlu serius digarap oleh sekolah sekarang ini baik yang menjadi sekolah sasaran atau tidak, adalah mengubah paradigm guru untuk mengadopsi model pembelajaran menuju kearah penguatan sikap, ketrapilan dan pengetahuan yang terintegrasi dengan Scientific Approach terhadap mata pelajaran masing.-masing dengan mulai melakukan perubahan pada Silabus dan RPP yang ada di KTSP serta mengimplementasikan dalam pembelajaran di kelas.
Khusus untuk SMK, salah satu acuan baku yang bisa dipakai pegangan dalam Implementasi Kurikulum 2013 adalah Permendikbud 70/2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMK/MA Kejuruan. Pada Permen ini tertuang mata pelajaran dari Kelompok A, B dan C (C1). Masalah mulai timbul, karena beberapa sekolah sudah harus menyusul Jadwal Pelajaran 1 Tahun, sedangkan Kelomok C2 dan C3 belum ada tertulis matapelajaran apa yang harus diajarkan. Untuk diketahui Kelompok C (Peminatan) berisi C1 (Kelompok Mata Pelajaran Dasar Bidang Keahlian), C2 (Kelompok Mata Pelajaran Dasar Program Keahlian) dan C3 (Kelompok Mata Pelajaran Paket Keahlian). Khusus Kelompok C2 dan C3 akan ditetapkan oleh Direjn Pendidikan Menengah.
Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menjadi solusi dalam menyikapi belum keluarnya ketetapan untuk C2 dan C3, dari hasil diklat Implementasi Kurikulum 2013, beberapa inovasi diberikan oleh narasumber diantaranya, pertama sepanjang C2 dan C3 belum ditetapkan maka sekolah dapat mengisinya dengan menggunakan matapelajaran produktif dari KTSP, dan yang kedua adalah memberikan draft struktur yang memang belum ditetapkan untuk dapat digunakan sebagai acuan penyusunan. Kedua solusi itu bagus untuk mempercepat penyusunan jadwal namun mubasir dan melelahkan (terutama perdebatan yang timbul saat penyusunan di tingkat sekolah). Contohnya untuk solusi kedua, dimana dinamikan yang timbul dari penentuan C2, sekarang ini telah ada penambahan mata pelajaran Simulasi Digital 3 jam/minggu untuk klas X, sehingga draft yang ada juga tidak bisa digunakan secara pasti sebelum ditetapkan oleh Dirjen Pendidikan Menengah.
Alternatif yang terbaik adalah menuggu ketetapan yang akan dikeluarkan, karena proses penyusunan sampai dengan silabus telah dilaksanakan di P4TK dan sekarang ini tinggal finalisasi di Direktorat PSMK. Sedangkan untuk menyiasati penyusunan jadwal, maka C3 tidak perlu dibuat dulu, karena matapelajaran ini akan diajarkan Kelas XI, sedangkan C2 dari 48 Jam yang diamanatkan, 30 jam telah ada ditetapkan mapelnya sesuai dengan Pemendikbud 70/2013, tinggal 18 jam yang belum, dimana dengan menggunakan sistem blok 18 jam ini mungkin bisa diletakan di semester genap (semester 2). Untuk materi selain 3 mapel (bahasa indonesia, sejarah indonesia dan metematika), materinya belum disusun dan ditetapkan oleh kemendikbud, maka materi masih menggunakan KTSP dengan perubahan paradigma pada model pembelajarannya yaitu Integrasi 3 ranah dan Scientific Approach.
Berikut Power Point Untuk Pendalaman Immplentasi Kurikulum 2013
No. Kelompok Mata Pelajaran Materi Unduh
1. Umum Umum Perubahan Mindeset ( Rhenald Kasali) Unduh
2. Umum Umum Perubahan Minset Unduh
3. Umum Umum Rasional Kurikulum 2013 Unduh
4. Umum Umum  Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Unduh
5. Umum Umum SKL KI-KD Unduh
6. Umum Umum Strategi Implementasi Kurikulum Unduh
7. Umum Umum Konsep Pendekatan Scientific Unduh
8. Umum Umum Project Base Learning Unduh
9. Umum Umum Problem Base Learning Unduh
10. Umum Umum Discovery Learning Unduh
11. Umum Umum Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasi Unduh
12. Umum Umum Anaslisi Buku Guru dan Siswa Mapel Unduh
13. Umum Umum Analisis Buku Guru dan Siswa Tematik Unduh
14. Umum Umum Rambu Rambu Penyusunan RPP Unduh
15. Umum Umum Rambu-Rambu Penyusunan RPP Tematik Unduh
16. Umum Umum Panduan Tugas Telah RPP Unduh
17. Umum Umum Panduan Tugas Analisis Rancangan Penilaian Unduh
18. Umum Umum Strategi Pengamatan Tayangan Video Unduh
19. Umum Umum Praktik Pembelajaran malalui peer Teaching Unduh
20. SD Tematik Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu Unduh
21. SD Tematik Implementasi Tematik Terpadu Unduh
22. SD Tematik Contoh Implmentasi Pendekatan Scientific Unduh
23. SD Tematik Analisis Buku Guru dan Siswa Tematik Unduh
24. SD Tematik Rambu-Rambu Penyusunan RPP Tematik Unduh
25. SMP Bahasa Indonesia Contoh Pendekatan Scientific Bahasa Indonesia Unduh
26. SMP Bahasa Indonesia Contoh Penilaian Autentik Bahasa Indonesia Unduh
27. SMP Bahasa Indonesia Konsep Pendekatan Scientific Unduh
28. SMP Bahasa Inggris Konsep Pendekatan Scientific Unduh
29. SMP Bahasa Inggris Konsep Penerapan Scientific Unduh
30. SMP Bahasa Inggris Konsep Penilaian Autentik Unduh
31. SMP Bahasa Inggris Contoh Penerapan Unduh
32. SMP IPA Konsep Pembelajaran IPA Terpadu Unduh
33. SMP IPA Peneapan Pendekatan Scientific Unduh
34. SMP IPA Conoth Penerapan Penilaian Autentik Unduh
35. SMP IPS Konsep IPS Terpadu Unduh
36. SMP IPS Contoh Pendekatan Scientific Unduh
37. SMP IPS Contoh Penilaian Autentik Unduh
38. SMP Penjasorkes Contoh Pendekatan Scientific Unduh
39. SMP Penjasorkes Contoh Penilaian Terpadu Unduh
40. SMP PPKN Contoh Penilaian Autentik Unduh
41. SMP PPKN Contoh Pendekatan Scientific Unduh
42. SMP Prakarya Contoh Penilaian Autentik Unduh
43. SMP Prakarya Contoh Pendekatan Scientific Unduh
44. SMP Seni Budaya Contoh Penilaian Autentik Unduh
45. SMP Seni Budaya Contoh Pendekatan Scientific Unduh
46. SMA Bahasa Indonesia Contoh Penilaian Autentik Unduh
47. SMA Bahasa Indonesia Contoh Pendekatan Scientific Unduh
48. SMA Matematika Contoh Penilaian Autentik Unduh
49. SMA Matematika Contoh Pendekatan Scientific Unduh
50. SMA Sejarah Contoh Penilaian Autentik Unduh
51. SMA Sejarah Contoh Pendekatan Scientific Unduh

Format Penilaian Otentik


Hasil pelaksanaan kegiatan pendampingan terhadap sekolah penyelenggara kurikulum 2013 menunjukkan bahwa sekolah masih sedang mencari bentuk pelaksanaan penilaian otentik yang sesuai dengan target SKL yang sekolah harapkan. Guru-guru pada beberapa SMA yang terpantau belum terbekali dengan  instrumen  yang dapat menilai input, proses, dan output pembelajaran secara komprehensif. Instrumen penilaian komprehensif mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.  
Penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat”(peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal. Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik.
Penilaian sikap dapat dilaksanakan penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi, pada penilaian diri pendidik menggunakan lembar penilaian diri. Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik.
Penilaian dalam bentuk  jurnal berupa catatan pendidik yang diperoleh dari kegiatan boservasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati di dalam dan di luar kelas. Muatan jurnal berupa informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.
Penilaan pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan. Instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian yang dilengkapi pedoman penskoran. Instrumen tes lisan berupa daftar pertanyaan.  Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
Penilaian  kompetensi keterampilan dapat pendidik lakukan melalui penilaian kinerja dalam mendemonstrasikan kompetensi tertentu, tes praktik, proyek, dan portofolio. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik. Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Karya yang dinilai dapat berbentuk tindakan nyata peserta didik.
Untuk merealisasikan konsep tersebut para pendidik hendaknya dibekali dengan instrumen penilain otentik yang sederhana, praktis, namun mencakup seluruh dimensi yang perlu guru amati sehingga seusai melaksanakan pembelajaran guru memiliki  hasil penilaian selama proses pembelajaran berlangsung.
Pada pertemuan pertama dihasilkan rancangan instrumen penilaian berikut Daftar Nilai untuk Penilaian Otentik (2074).  Pada diskusi lanjutan  dalam muncul kesadaran bahwa instrumen yang diperlukan tidak cuma untuk penilaian otentik, namun diperlukan pula perangkat untuk menampung nilai hasil tes; seperti hasil ulangan harian ; dan perangkat untuk menghimpun nilai tugas siswa. Menanggapi keperluan itu tersusunlah Perangkat dan Dokumen Penilaian Hasil Belajar (2484) sebaggai bahan mempersiapkan pengisian rapot.
Salam.

Sabtu, 21 Desember 2013

Cara Menjadi Guru Yang Kreatif dan Inovatif Sesuai Kurikulum 2013


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ اارَّØ­ِيم



Pendidikan merupakan salah satu tolok ukur kemajuan yang dicapai suatu masyarakat, bahkan negara. Hal ini dapat dilihat dari apa yang telah dicapai Jepang melalui Restorasi Meiji pada akhir abad 19, kemajuan yang diraih Taiwan, dan capaian kemajuan yang demikian pesat negara Cina dan Korea Selatan serta India.

Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut, maka guru merupakan salah satu kunci dalam  pendidikan. Jika guru sukses, maka kemungkinan besar  murid-muridnya akan sukses pula
Peran guru sangat vital bagi pembentukan kepribadian, cita-cita, dan visi misi yang menjadi impian hidup anak didiknya di masa depan,

Dibalik kesuksesan peserta didik, selalu ada guru yang memberikan inspirasi dan motivasi besar pada dirinya sebagai sumber stamina dan energi untuk selalu belajar  dan bergerak mengejar ketinggalan, menggapai kemajuan, menorehkan prestasi spektakuler  dan prestisius dalam panggung sejarah kehidupan manusia.
Berdasarkan asumsi di atas, maka di sinilah pentingnya  upaya bagaimana melahirkan guru-guru berkualitas, ideal dan inovatif.

Kriteria Guru
Kriteria guru menurut Prof. Herawati Susilo, Pakar Pendidikan Universitas  Negeri Malang meliputi :
1. Belajar sepanjang hayat
2. Literatur sains dan teknologi
3. Menguasai bahasa Inggris
4. Terampil melaksanakan PTK
5. Rajin menghasilkan karya Ilmiah
6. Mampu mendidik  berdasarkan filosofi konstruktivisme dengan pendekatan kontekstual

Dalam konteks ini, guru memiliki karakter mau belajar sepanjang hayat, memiliki koleksi pustaka yang memadai sesuai dengan bidang studinya, dapat memahami penggunaan bahasa Inggris, mampu melaksanakan PTK, membuat karya ilmiah, artikel, membiasakan membuat tulisan dan menguasai strategi mengajar sesuai dengan tuntutan perkembangan dewasa ini. Hal ini sering terkendala adanya pola pikir oleh sebagian kadang ada yang merasa sudah mampu, pandai atau yang sejenis. Mereka ini biasanya bersikap meremehkan, merasa pandai, merasa sudah benar, sebaliknya menganggap orang lain salah, lebih rendah dan sebagainya.

Guru yang Ideal
Dalam dunia pendidikan, masyarakat dan khususnya peserta didik melihat dalam diri seorang guru memiliki gambaran sangat ideal. Guru yang ideal adalah guru yang mampu memahami profesinya. Guru yang ideal adalah guru yang rajin membaca dan menulis. Guru yang ideal adalah guru yang sensitif terhadap waktu. Guru yang ideal adalah guru yang kreatif dan inovatif.

Melihat gambaran demikian, sungguh luar biasa dapat menginspirasi dan memotivasi anak didik untuk lebih mengembangkan potensinya. Realitanya, sering dijumpai guru yang memberikan tuntutan kepada siswa untuk mengerjakan, membuat ini itu atau apalah (percobaan, karya tulis, karya ilmiah). Sebaliknya guru sendiri tidak mencoba untuk membuat karya sendiri yang minimal diperlihatkan kepada anak didiknya. 

Guru yang ideal adalah guru yang guru yang memiliki  5 kecerdasan ( intelektual, moral, sosial, emosional, dan motorik).
1. Cerdas Intelektual artinya guru menguasai materi pembelajaran, sains dan teknologi.
2. Cerdas Moral memiliki makna jujur, disiplin, santun, ramah
3. Cerdas Sosial dalam arti komunikatif, sensitif, peduli, tanggap sasmito,
4. Cerdas Emosional mengandung pengertian sabar, tawakal, tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung
5. Cerdas Motorik memiliki sikap mobil, energik, lincah, cekatan.

Proses Kreatif Dalam Pembelajaran ( Rina Eny Anawati)
Untuk meningkatkan kualitas belajar siswa dibutuhkan sebuah proses kreatif dalam pembelajaran, yakni upaya-upaya penting yang dilakukan untuk mendayagunakan  potensi kognitif, afektif dan psikomotorik  secara optimal. Proses kreatif menjadikan siswa memiliki multi perspektif dan cara pandang yang luas; siswa mampu mengamati hal-hal yang detail sehingga menjadi rujukan dalam menyelesaikan masalah.

Tahapan menuju proses kreatif dalam pembelajaran
Pertama, kemampuan untuk mengakomodasi gaya belajar setiap siswa. ( kecenderungan kinestetik, visual, dan auditorial)

Kedua, menciptakan suasana belajar yang menggairahkan. (alat pembelajaran, media, metode, strategi,  penataan kelas, warna dinding, lingkungan kelas dan sebagainya)

Ketiga, kemampuan menanamkan nilai-nilai dan keterampilan hidup dengan kapasitas yang benar bagi siswa. ( misal keberhasilan menerapkan budaya membaca, menulis )

Keempat, menghilangkan segala hambatan dalam belajar dengan membangun interaksi, kedekatan dan komunikasi dengan siswa. Dalam hal ini diharapkan figur guru :
1. guru mampu menjadi pendengar yang baik
2. menghargai pendapat dapat memperkaya  wawasan dan membuka pikiran
3. singkirkan hambatan internal
4. bangun interaksi  yang sehat dengan siswa
5. jangan selalu “aku selalu benar”

Syarat Guru
menurut KH. Moh Hasyim As ‘ari, meliputi :
1.  Senantiasa Istiqomah
2.  Senantiasa berlaku khauf ( amanah)
3.  Senantiasa bersikap tenang
4.  Senantiasa bersikap wara’( meninggalkan subhat/sia-sia)
5.  Senantiasa bersikap tawaduk (rendah hati)
6.  Senantiasa bersikap khusuk
7.  Senantiasa memohon kepada ilahi
8.  Senantiasa  berbuat dengan  ikhlas
9.  Tidak diskriminatif
10. Bersikap zuhud ringan dunia, berat akhirat)
11. Menjauhkan diri dari hal hal yang hina.
12. Menjauhkan diri dari kemaksiatan
13. menjaga dan melaksanakan syariat agama
14. menegakkan, dan melaksanakan sunah
15. amar makruf nahi mungkar
16. Bergaul dengan ahklak yang baik
17. Membersihkan penyakit hati
18. Bersemangat untuk mengembangkan ilmu
19. bermanfaat dimana berada
20. Membiasakan diri menyusun pengetahuan

Demikian, semoga dapat menginspirasi kita dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi yang handal di masa depan. Terima kasih.

MENJADI GURU KREATIF DAN INOVATIF

MENJADI GURU KREATIF DAN INOVATIF

A. Pendahuluan

Akibat perkembangan dan kemajuan sains dan teknologi batas antar negara yang ada di bumi ini sudah tidak nampak lagi. Berbagai informasisebagai produk dari perkembangan dan kemajuan sains dan teknologi itu dengan deras mengalir ke setiap negara teramsuk Indonesia tanpa dapat dibendung atau dicegah. Era informasi telah terjadi di bumi ini, sungguh luar biasa!
Pesatnya perkembangan sains dan teknolgi di abad sekarang ini, tidak memung-kinkan lagi seorang guru untuk mentransfernya kepada siswa dalam waktu yang singkat di dalam kelas. Kenyataan ini menuntut guru atau calon guru menjadi fasilitator yang lebih kreatif dan inovatif untuk menciptakan kondisi belajar mengajar yang kondusif sehingga membawa anak didiknya mempunyai kemampuan BELAJAR BAGAIMANA BELAJAR atau kemampuan learning how to learn secara aktif. Ini berarti guru dituntut untuk menjadikan anak didiknya sumber daya manusia yang mencari informasi kemudian mengelolanya untuk kehidupannya sehari-hari, dibarengi dengan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kata lain guru dituntut untuk menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang handal baik secara mental maupun fisiknya. Apakah yang harus guru perbuat dengan tuntutan seperti ini? Tidak lain dan tidak bukan guru haruslah menjadikan dirinya sebagai guru yang profesional dengan meningkatkan daya kreasi dan inovasinya. Untuk itu marilah kita simak uraian dalam makalah berikut ini secara cermat.

B. Pengertian Kreatif - Inovatif dan Pengembangannya

1. Apakah yang dimaksud dengan Kreatif dan Inovatif itu ?

Kreatif merupakan suatu kondisi dimana seseorang memiliki
kemampuan daya cipta. Seseorang yang memiliki daya kreasi tinggi sering pula orang tersebut kreativitasnya tinggi. Hal ini berarti orang tersebut memiliki sifat untuk menciptakan sesuatu. Suatu produk yang kreatif biasanya menghendaki kecerdasan dan imajinasi. Maksudnya, sebuah kreasi merupakan hasil buah pikiran atau kecerdasan akal manusia. Secara singkat kreatif atau kreativitas dapat didefinisikan sebagai kemampuan mencipta. yang dimiliki seseorang.

Inovatif, seperti halnya kreatif, juga merupakan kemampuan yang
dimiliki seseorang. Inovatif merupakan sifat pembaruan atau kreasi baru. Kreasi ini bisa berhubungan dengan pendekatan, metode, atau gagasan. Gagasan-gagasan itu akan merupakan suatu inovasi apabila berbeda dengan yang lama. Dengan kata lain inovatif berarti kemampuan untuk memperkenalkan sesuatu yang baru
Dalam kehidupan biasanya dua kemampuan ini saling berkait erat.
Seseorang yang kreatif biasanya juga inovatif. Sekarang bagaimanakah kreatif dan inovatif ini apabila kita kaitkan dalam dunia pekerjaan guru serta kaitannya denga era kemajuan sains dan teknologi yang kian pesat berkembang. Kedua kemampuan ini akan sangat berarti atau bermakna dalam dunia pendidikan, apabila dicermati pengertiannya dan selanjutnya diaplikasikan pada tugas dan peran sehari-hari kita sebagai guru.. Mengapa demikian? Kreativitas dan inovasi yang ada atau yang sudah dimliki setiap
guru diharapkan akan memberi peluang kepada siswa untuk memilikinya. Guru mempunyai kesempatan besar untuk mengubah suatu kondisi atau atmosfir pembelajaran yang kurang baik menjadi lebih baik. Diharapkan dengan kreatifitas dan inovasi guru-guru sebagai ujung tombak kreator dan inovator yang langsung berhadapan dengan kelas akan membawa suatu kondisi pembelajaran yang kondusif secara keseluruhan. Selanjutnya apabila kedua kemampuan ini sudah menjadi milik guru-guru
dalam pekerjaannya sehari-hari, bukan hal yang tidak mungkin guru-guru ini akan menjadi agen pembaharuan baik untuk sekolah tempatnya bekerja atau lebih luas lagi bagi dunia persekolahan, bahkan dunia pendidikan.

2. Bagaimana Kreativitas dan Inovasi tumbuh dan berkembang?

Daya kreativitas dan inovasi secara alamiah telah dimiliki oleh setiap orang. Namun tumbuh dan berkembangnya pada setiap orang ini akan berbeda tergantung dari kesempatan masing-masing untuk mengembangkannya. Pengembangan atau tumbuhnya dengan subur kreativitas dan inovasi pada setiap orang atau sehubungan dengan pekerjaan guru adalah dengan adanya latihan yang berkesinambungan. Latihan ini harus dibarengi pula dengan penanaman sikap dan nilai yang luhur, yaitu sikap
seorang ilmuwan dan nilai yang berlandaskan pada IMTAQ.

C. Menjadi Guru yang Kreatif dan Inovatif

1.Apa yang dapat diciptakan oleh Guru berkaitan dengan
Tugasnya?

Cukup banyak dan beragam kreatifitas dan inovatif yang dapat kita
lakukan dalam kaitannya dengan tugas dan peran kita sebagai guru. Bebe-rapa aspek yang mungkin diberdayakan akan dibahas dalam bagian ini, baik yang berkaitan dengan perencanaan maupun pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM). Dalam perencanaan dan pelaksanaan PBM terdapat beberapa komponen yang terkait langsung, yaitu bahan ajar, metode dan pendekatan, sarana dan prasarana, keterampilan dasar mengajar, dan asesmen.Bahan ajar dapat diberdayakan melalui penggunaan buku pelajaran (a),
dan dalam analisis bahan ajar (b). Pemilihan metode danpendekatan pembelajaran (c) sangat menentukan kualitas pembelajaran, khususnya dalam perencanaan pengalaman belajar (d). Selain itu pembuatan dan penggunaan sarana pembelajaran (e) akan membantu menciptakan iklim yang kondusif
untuk pembelajaran yang bermakna. Kecerdikan guru dalam pengelolaan kelas dan/atau laboratorium (f) serta penggunaan teknik dan keterampilan bertanya (g) akan melengkapi efektivitas dan kualitas PBM. Terakhir tak kalah pentingnya adalah pemberdayaan asesmen yang bervariasi (h) memberikan arah pembelajaran yang aktif, kreatif, dan inovatif.

2. Bagaimana Menjadi Guru yang Kreatif dan Inovatif?

Sesuai dengan cakupan aspek yang mungkin diberdayakan,
pembahasan pada bagian ini dilakukan secara berurut, mulai dari penggunaan buku pelajaran (a) sampai dengan pemberdayaan asesmen yang bervariasi (h).

a. Penggunaan buku pelajaran

"Catat buku sampai abis" (CBSA) merupakan kondisi yang biasa
dijumpai dalam pembelajaran di sekolah di Indonesia. Selama ini
tampaknya buku pelajaran digunakan secara pasif oleh guru. Guru
membaca materi yang ada di dalam buku pelajaran untuk kemudian dibahas (diajarkan) kepada siswa saat tatap muka di kelas. Atau guru menyiapkan ringkasan dari buku pelajaran dan menuliskannya di papan tulis, sementara itu siswa mencatatnya. Siswa menjawab persis seperti yang ada dalam buku pelajaran atau buku catatan ketika ulangan. Apabila kegiatan seperti itu yang terjadi, maka sebenarnya kita tidak membelajarkan siswa.
Dalam belajar biologi (sebagai bagian dari IPA yang termasuk
experimental science), siswa perlu berinteraksi dengan alam. Buku
digunakan sebagai rujukan atau pembanding dengan hasil interaksi
mereka dengan alam. Buku pelajaran disiapkan bagi siswa, sementara bagi guru sudah disiapkan buku petunjuk guru yang memang secara khusus disusun untuk keperluan PBM dan penambahan wawasan.

b. Analisis bahan ajar

Materi pelajaran perlu disiapkan oleh para guru dengan
mempertimbangkan karakteristik dan kemampuan peserta didiknya. Pada kenyataannya masih banyak diantara para guru yang langsung saja mengambil materi dari buku-buku tertentu yang ada. Selain bahan ajar yang terdapat dalam buku pelajaran, kita sebernarnya perlu melakukan analisis bahan ajar atau analisis materi pelajaran. Denngan menganalisi bahan ajar kita "terpaksa" belajar dan mengolah materi pelajaran dalamurutan yang logis yang dapat diajarkan (teacable) dan diterima
(accessible).

c. Pemilihan metode/pendekatan pembelajaran

Senioritas seorang guru tidak hanya bergantung pada lamanya
mengajar, melainkan juga (dan terutama) kemampuannya untuk memilih metode dan pendekatan yang sesuai dengan topik bahasan, kondisi sekolah, dan hakikat belajar IPA. Metode ceramah sangat efisien dan efektif dalam menyampaikan materi yang aktual, karena dapat meminta konsentrasi siswa untuk menyimak isi materi yang dibahas. Namun metode ceramah tidak efektif untuk membelajarkan siswa untuk ber-IPA. Duduk-dengar-diam (3D) merupakan gejala yang sering dijumpai dalam PBM di kelas-kelas pendidikan dasar maupun pendidikan menengah. Pendekatan keterampilan proses mengaktifkan siswa belajar secara
mental, fisik/manual, dan sosial. Pendekatan sains-teknologi-masayarakat (STM) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari isu-isu yang beredar dalam masyarakat untuk diangkat menjadi masalah yang akan dipecahkan bersama, kemudian diperkenalkan dan disebar-luaskan kembali ke masyarakat. Masih banyak pendekatan lain yang dapat dipilih untuk pembelajaran biologi yang aktif dan bermakna seperti pendekatan interaktif, pendekatan terpadu.

d. Perencanaan pengalaman belajar

Dari tujuan pembelajaran umum (TPU) dalam GBPP dijabarkan TPK
yang operasional. Oleh karena dalam TPK terdapat aspek "apa atau isi" (konsep / subkonsep) dan aspek "bagaimana atau proses" (keterampilan proses sains), maka TPK pun seyogianya memuat kedua aspek tersebut. Tujuan yang sudah direncanakan tersebut tentunya membawa konsekuensi pada rancangan pembelajarannya. Dengan demikian dalam merencanakan pembelajarannya perlu dirancang pengalaman belajar yang memberikan kesempatan kepada siswanya untuk ber-IPA dan belajar bermakna. Sebagai contoh ambillah satu TPK, lalu buat TPK dengan prinsip ABCD. Setelah itu bacalah alternatif pembelajaran dalam GBPP (bunderan/jendolan) sebagai pembanding atau pembuka gagasan,
susunlah secara berurut kegiatan-kegiatan yang mungkin dilakukan siswa untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran (TPU & TPK). Itulah rancangan pengalaman belajar! Kreativitas dan inovasi guru dapat dilihat dari rancangan pengalaman belajar bagi para siswanya.

e. Pembuatan dan penggunaan sarana pembelajaran

Rancangan pengalaman belajar dapat diimprovisasi dengan
memnafaatkan potensi daerah sebagai sarana atau media pembelajaran, misalnya memperkenalkan contoh-contoh lokal dalam belajar keanekaragaman makhluk hidup, hewan, tumbuhan, tumbuhan biji. Memodifikasi alat pelajaran atau alat peraga praktik yang buatan pabrik dengan menggunakan bahan-bahan di sekitar kita, bahkan menggunakan barang-barang bekas (seperti stereofoam, botol/gelas air mineral, karet sendal jepit) jelas menunjukkan kreativitas dan inovasi. Mengubah sebuah kotak lampu senter untuk melatih keterampilan observasi tanpa
penglihatan juga sudah menunjukkan kreativitas dan inovasi.
f. Pengelolaan kelas dan/atau laboratorium Menata kelas dan laboratoium sesuai metode/pendekatan yang dipilih dapat mengubah suasana belajar. Posisi meja/kursi berbentuk huruf U
atau V sangat cocok untuk metode demonstrasi dan diskusi. Posisi duduk siswa yang berhadap-hadapan tanpa mengubah posisi kursi efektif untuk kerja kelompok (pengamatan, diskusi). Mengelola kelas tidak sama dengan menata kelas. Mengelola lebih berkaitan dengan mengatur atau mengorganisasi (manajemen) kegiatan pembelajaran, baik di kelas ataupun di laboratorium. Kegiatan mengelola dapat mencakup kegiatan membuka pelajaran, memotivasi siswa agar ertarik (berminat) terhadap topik yang akan dibahas, Pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok untuk berkolaborasi guna memecahkan masalah dengan mengembangkan keterampilan tertentu menuntut pengelolaan kelas yang berbeda daripada pengelolaan kelas yang biasa kita lakukan. Marilah kita cari contohcontoh pengelolaan kelas lainnya yang dapat mengubah suasana jenuh
atau bosan saat pembelajaran berlangsung. Semua itru sebaiknya
dipikirkan dan direncanakan sejak awal. Mengelola kegiatan praktek lain lagi. Memang untuk kegiatan praktek diperlukan rasio guru pembimbing dan praktikan yang lebih kecil, tetapi rasio tersebut ada kaitannya dengan peran guru. Guru atau pembimbing praktek mengunjungi para praktikan yang bekerja secara berkelompok ataupun individual untuk membantu mengatasi masalah yang mereka hadapi saat melakukan kegiatan praktek. Selama membimbing kegiatan praktek guru yang inovatif akan memberi kesempatan kepada para siswa praktikan untuk berdebat, mengemukakan pendapat atau hasil pengamatannya. Pada akhir kegiatan praktek seyogianya guru mereviu atau merangkum untuk menyamakan persepsi atau peroleh kegiatan praktek. Sebagaimana pada awal kegiatan guru memberikan arahan dalam hal penggunaan alat/bahan dan pengaturan waktu. Orang yang kreatif selalu menghargai waktu! Waktu yang sudah berlalu tidak dapat diulangi atau didapat kembali. Siswa dapat dilibatkan dalam persiapan atau tugas piket, sekaligus membina tanggung jawab
mereka.

g. Teknik dan keterampilan bertanya

Walaupun teknik dan keterampilan bertanya sudah banyak digunakan oleh para guru di lapangan, namun masih banyak yang belum menyadari kekuatan dari pertanyaan dalam PBM. Pertanyaan dapat diajukan untuk merangsang siswa berperanserta, berpikir, ber-IPA, dan lainnya.Pertanyaan produktif sangat dianjurkan untuk digunakan dalam pembelajaran IPA di kelas. Pertanyaan produktif dimaksudkan untuk melibatkan seluruh siswa untuk berperanserta dalam PBM, baik dalam diskusi, pengamatan, kegiatan praktek, maupun kegiatan lapangan. Daripada kita bertanya: "mengapa begini atau begitu?", lebih bermakna jika kita bertanya: "apakah semuanya begitu?" atau "bagaimana kamu akan menunjukkan bahwa pendapatmu itu benar?". Pertanyaan produktif
pada umumnya dapat dijawab oleh setiap siswa, karena tidak menuntut siswa untuk mengingat-ingat konsep atau informasi di luar yang ditanyakan Pendekatan interaktif melibatkan pertanyaan, dari siswa ataupun dari guru, terutama guru mengelola pertanyaan siswa menjadi pengarah kegiatan belajar. Pendekatan interaktif banyak digunakan dalam siaran atau tayangan TV atau radio swasta. Dalam pendekatan interaktuif, pemirsa dapat berdialog dengan nara sumber dipandu oleh penyiar atau pembawa acara.

h. Pemberdayaan asesman yang bervariasi

Ketika menilai hasil belajar kita tidak menilai siswanya, melainkan
karakteristik atau kemampuan tertentu dari siswa. Dari lima target
penilaian (pengetahuan, penalaran, keterampilan, karya, afektif) seringkali hanya aspek pengetahuan yang diukur. Biasanya pengukuran hasil belajaran tersebut dilakukan melalui bentuk tes tertentu yang terbatas, misalnya tes obyektif pilihan berganda. Penggunaan satu bentuk tes untuk mengungkap satu aspek target tentunya tidaklah memadai dan tidak dapat diandalkan untuk membuat keputusan yang seringkali sangat menetukan nasib dan kehidupan seserang. Begitu pula pengunaan tes obyektif pilhan ganda untuk mengukur enguasaan pengetahuan siswa tidak dapat dijadikan jaminan bahwa siswa yang mendapat nilai tinggi tersebut memang pantas menempati suatu posisi misalnya.Bagaimana cara memberdayakan asesmen dalam mengumpulkan informasi tentang kemajuan seseorang? Variasi atau kombinasi metode atau teknik asesmen terhadap berbagai target atau dimensi belajar dapatdipilih sebagai alternatif asesmen. Kreativitas dan inovasi guru ditantang untuk memilih metode-metode yang tepat dan target-target yang membedakan seseorang berhasil dan yang tidak. Mengajak siswa untuk menilai dirinya sendiri atau self assessment merupakan salah satu bentuk penghargaan yang mungkin dapat dicobakan pada anak usia sekolah dasar. Mungkin masih ada bentuk-bentuk lain untuk memberikan penghargaan kepada siswa kita, siapa punya gagasan?

D. Penutup

Menjadi guru yang kreatif dan inovatif tidaklah sulit. Setiap upaya untukmencobakan gagasan baru yang mendorong siswa agar belajar bermakna dan produktif sudah menunjukkan kreativitas dan inovasi. Kreativitas dan inovasi bukanlah sesuatu yang muluk-muluk. Setiap orang memiliki kreativitas yang kadarnya berbeda dan dapat dikembangkan atau dilatihkan oleh dirinya sendiri atau dengan bantuan orang lain (siswa oleh guru), tetapi yang penting orang yang bersangkutan mau berusaha dan tidak menyerah pada keadaan. Jadilah kreatif dulu gurunya, karena kreativitas jarang (tidak akan) muncul pada siswa-siswa
yang gurunya tidak kreatif.

DAFTAR PUSTAKA

Allen, R.E. (ed.). (1986). The Pocket Dictionary of Current English. 7thed.
Oxford: Clarendon Press.
Rustaman, N., & Rustaman, A. (1997). Pokok-pokok Pengajaran Biologi dan
Kurikulum 1994. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Stiggins, R.J. (1994). Student Centered Classroom Assessment. New York:
Macmillan College Publishing Company.
Tim Penyusun Kamus. (1989). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua.
Jakarta: Balai Pustaka

Rasional : Mengapa Kurikulum 2013

Rasional : Mengapa Kurikulum 2013

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Keterampilan yang diperlukan terus berubah. Oleh karena itu, perangkat kurikulum sebagai rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan perlu berubah.
Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.
Di samping itu, penjaminan mutu pendidikan yang mengacu pada 8 Standar Nasional Pendidikan yang meliputi Standar Pengelolaan, Standar Biaya, Standar Sarana Prasarana, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, dan Standar Kompetensi Lulusan perlu dikembangkan secara dinamis agar dapat menjawab tantangan perubahan.
Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70%. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi negara adalah bagaimana mengusahakan agar sumberdaya manusia usia produktif dapat ditransformasikan menjadi sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi dan keterampilan yang sesuai dengan kebuhan jaman.
Pergeseran peradaban dunia telah melahirkan World Trade Organization (WTO), Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Community, Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), dan ASEAN Free Trade Area (AFTA). Berbagai organisasi dunia lahir untuk menguatkan ekonomi dunia yang berpengaruh  pada teknosains, investasi, dan transformasi bidang pendidikan. Sebagai basis penyetaraan kekuatan bangsa, Indonesia pun terlibat dalam kegiatan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Program for International Student Assessment (PISA) sejak tahun 1999. Namun demikian capaian anak-anak Indonesia tidak menggembirakan. Dalam beberapa kali laporan yang dikeluarkan TIMSS dan PISA anak Indonesia memiliki tingkat daya saing yang rendah.  Hal ini disebabkan antara lain banyaknya materi uji yang ditanyakan di TIMSS dan PISA. Karena itu pula kurikulum Indonesia perlu dikembangkan agar dapat mengantarkan siswa memiliki daya saing yang setara dengan generai muda dari negara lain.

Inti dari Kurikulum 2013 dan Alasan dari Perubahan Kurikulum KTSP ke Kurikulum 2013

Inti dari Kurikulum 2013 dan Alasan dari Perubahan Kurikulum KTSP ke Kurikulum 2013


Inti dari Kurikulum 2013, adalah ada pada upaya penyederhanaan, dan tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan.

Titik beratnya, bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Adapun obyek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya.

Melalui pendekatan itu diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik.

Pelaksanaan penyusunan kurikulum 2013 adalah bagian dari melanjutkan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu, sebagaimana amanat UU 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada penjelasan pasal 35, di mana kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Paparan ini merupakan bagian dari uji publik Kurikulum 2013, yang diharapkan dapat menjaring pendapat dan masukan dari masyarakat.

Menambah Jam Pelajaran
Strategi pengembangan pendidikan dapat dilakukan pada upaya meningkatkan capaian pendidikan melalui pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi; efektivitas pembelajaran melalui kurikulum, dan peningkatan kompetensi dan profesionalitas guru; serta lama tinggal di sekolah dalam arti penambahan jam pelajaran.

gambar1
skema1


Skema 1. menyajikan tentang Strategi Peningkatan Efektivitas Pembelajaran. Sedang gambar 1. menggambarkan tentang strategi meningkatkan capaian pendidikan, yang digambarkan melalui sumbu x (efektivitas pembelajaran melalui kurikulum, dan peningkatan kompetensi dan prefesionalitas guru), y (pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi) dan z (lama tinggal di sekolah dalam arti penambahan jam pelajaran).

Rasionalitas penambahan jam pelajaran dapat dijelaskan bahwa perubahan proses pembelajaran (dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu) dan proses penilaian (dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output) memerlukan penambahan jam pelajaran. Di banyak negara, seperti AS dan Korea Selatan, akhirakhir ini ada kecenderungan dilakukan menambah jam pelajaran. Diketahui juga bahwa perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat. Bagaimana dengan pembelajaran di Finlandia yang relatif singkat. Jawabnya, di negara yang tingkat pendidikannya berada di peringkat satu dunia, singkatnya pembelajaran didukung dengan pembelajaran tutorial yang baik.
Penyusunan kurikulum 2013 yang menitikberatkan pada penyederhanaan, tematik-integratif mengacu pada kurikulum 2006 di mana ada beberapa permasalahan di antaranya; (i) konten kurikulum yang masih terlalu padat, ini ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak; (ii) belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; (iii) kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan; beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum; (iv) belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global; (v) standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru; (vi) standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; dan (vii) dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.

skema2

skema3

Skema 2 menggambarkan tentang kesenjangan kurikulum yang ada pada konsep kurikulum saat ini dengan konsep ideal. Kurikulum 2013 mengarah ke konsep ideal. Sedang skema 3 menjelaskan alasan terhadap pengembangan kurikulum 2013.